Senin, 20 November 2017

Hegemoni Budaya Rohul, Potensial Identitas Riau Dimata Internasional, Pengusaha Diminta Lebih Responsif

Pasir Pengaraian (Riauoke.com) Hegemoni kebudayaan Kabupaten Rokan Hulu (Rohul),  dinilai sangat potensial dijadikan sebagai identitas daerah, tidak saja daerah Rohul, tapi Provinsi Riau pun berpotensi promosi budaya di kencah internasional, namun modifnya masih sederhana, warisan leluluhur dapat diakomodatif secara signifikan, sehingga penggiat seni daerah dapat mempertahankannya, mesti modersisasi menyalib dengan gaya praktis, membuat minimnya minat masyarakat untuk melestarikan dan menfaatkannya, karena manualisasi tradisi permainannya baik menyangkut seni ukir, tari, media dan penyajiannya, hingga population human interst sangat terbatas.

 

Culture atau  peradaban (Civilization)  asal kata sansekerta buddhayah, bentuk jamak dari buddhi berarti "budi" atau "kekal”, culture dalam dialeg asing atau bahasa latin colere berarti "mengolah", "mengerjakan",  terutama berhubungan dengan pengolahan tanah atau bertani, memiliki kesamaan  makna dengan kebudayaan, kemudian berkembang menjadi "segala daya  upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan mengubah alam. Civilization, dipakai untuk menyebut bagian-bagian serta unsur-unsur halus, maju, indah, seperti misalnya kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun, serta pergaulan kepandaian menulis, organisasi bernegara,  kebudayaan terintegrasi dalam ruang lingkup kehidupan manusia.

 

Berbicara kebudayaan dalam era modernisasi, mungkin terlintas di pikiran, pengaruhnya, berdampak negatif terhadap kelangsungan pelestariannya, meskipun modernisasi bermanfaat positif terhadap pelestarian budaya.  masyarakat adat  harus menjalankan  hukum adat, acaranya tetap dipertahankan dijadikan sebagai aspek kekayaan bangsa maupun daerah. Maka responsiblitas Pemerintah Daerah dapat mejadi tolak ukur dalam meng up-date baik secara pemahaman, pengatauahn, pelaksanaan, sehingga dapat sumber daya daerah.

 

Keanekaragaman budaya dan ke sukuan di Kabupaten Rohul, dinilai menjadi sebuah potensi kekayaan daerah, jika dikelola dengan efektif dan efesien, bukan tidak mungkin menjadi identitas daerah di kencah  nasional atau intenasioanl, hegemoni kesukuan di Rohul saat ini yakni, Suku Melayu, Suku Mandailing, Minang, Suku Piliang, Suku Caniago, Suku Potopang, Penghulu Pasa, Suku Bonai, Suku Sakai, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Agkola, Pakhpak, Dairi, Karo, Nias, Jawa, Sunda dan lainya. Kemajemukan ini tidak membuat Bupati Rohul Drs. Ahmad, MSi, melihat dengan sebelah mata semuanya tertata dengan baik, hingga hari belum ada perselisihan atau konflik antara keskuan di Rohul.

 

Perhatian kebudayan Kabupaten berevolusi secara dinamis, meskipun hanya bersifat konstruksi fisik, realitanya jelas, seperti pembangunan rumah adat melayu, rumah adat suku mandaling di Bangun Purba, rumah adat Suku Jawa dan lainnya, sebenarnya pengakuan Pemkab Rohul menjadi berita gembira bagi penggiat atau aktifis budaya, Mantan Camat Rambah Hilir, saat ini menjadi Kabag Humas Pemkab Rohul Irwandi, dinilai sebagai pahlawan kebudayaan Batak, respon partisipatif dengan fasilitas sederhana, sewaktu menjabat jadi camat, diniali sangat ideal bagi suku Batak dijadikan sebagai proklamator dalam menumbuh kembangkan budaya.

 

Tokoh Adat Batak Arrnansyah Sulaiaman Damanik, meminta agar Bupati Rohul Drs. Ahmad, MSi lebih elegan dan respon terhadap budaya Batak, meskipun ini berasal dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut), tapi dia sudah berkembang dan lahir di tanah melayu Kabupaten Rohul, mewabah  melarutkan diri dalam kehidupan masyarakat, tentu Pemkab Rohul punyak hak patenisasi untuk dijadikan kekayaan budaya Kabupaten Rohul, sekalipun pengiatnya banyak dari kalangan non muslim, selama ini mereka merasa dimarzinalkan, tentu tidak kontradiktif dengan sendi-sendi budaya Rohul yaitu, negeri seribu suluk, atau “Adat bosondikan syarak, syarak bosondikan Kitabullah”, sebab muslim menjamin keselamatan, kenyaman dan menjamin hak hidup dan kreatifitass dilingkungannya.

 

Kebijakan proaktif bisa membuat himbauan, peraturan atau fasiltator sosialitif, tentu dalam konteks ini tidak hanya dibebankan kepada Pemerintah, tapi kelembagan  non government sifatnya konsumtif, terrmasuk potensi paling efektif dijadikan media promotif dalam mengembangkan usahanya, baik usaha bersifat daerah maupun cabang nasional atau internasional, seperti BANK, Percetakan, Honda, Suzuki, Yamaha, Obat-obatan  dan  lainya, kalau bergerak di bidang jasa bisa dijadikan sebagai penyaluran dana Coorpare Sosial  Responsiblity (CSR) atau Community Deplohadment (CD). Korelasi kerjasama dapat dijadikan moment dalam menghidupkan kebudayaan daerah, maka tak dikhawatirkan lagi krisis budaya berdampak pada prilaku, hingga menimbulkan fenomena social dapat dijadikan upaya pereventib maupun represib.

 

Padahal banyak daerah dengan kesadaran bersama dalam menciptakan iklim kondusif terhadap budaya dapat menambah sumber pendatapan asli daerah (PAD), umpanya Bali, Kota Padang, Toba Samosir menjadi kunjungan wisata karena spesipikasi adat budayanya, dan lainya. Bisa melakukan studi banding tentang pemanfaatan budaya, festival dengan ivent tertentu atau seminar dengan mendatang fakar ahli budaya untuk memperkaya khazanah dalam pengelolaan budaya sebagai investasi alam dari sang pencipta untuk dijaga di gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang banyak kepala suku mengaku raja dalam satu luhak atau  ulayat meskipun  tak memiliki rakyat dan kekuasaan, tapi nilainya seolah –olah sangat politis, dimanfaatkan untuk kepentingan sifatnya individualistic, raja seharusnya menjadi pelayan rakyatnya, ninik-mamak menjadi pembimbing bagi kamanakannya, bukan malah menngatasnamakan raja dan ninik-mamak lalu menjual tanah-tanah kepada perusahaan, sehingga  menjadi budak dinegeri sendiri.

 

Setidaknya, Rohul menyimpan rahasia tuhan yakni, kesenian dan budaya untuk dimanfaatkan bagi kehidupan umat manusia, berpotensi sebagai media informatib daerah bahkan sarana dakwah tergatung pengolahan dan pelaksanaanya, yaitu, Gondang Borogong dikenal sebagai alat musik tradisional Rohul, alat musik ini, perpaduan beberapa alat, terdiri dari gong disebut  “ogung”, gong berukuran kecil berjumlah enam buah disebut “celempong” dan sepasang gendang dua muka/sisi disebut Gondang. Nilai budayanya tinggi dalam adat istiadat, itu dalukan dalam kegaiatan perkawinan, jika sebuah helat dengan menghadirkan gondang borogong pertanda helat itu memotong hewan ternak kambing atau kerbau, alat musik tardisional ini diperuntukkan dalam menyambut tamu kebesaran acara-acara, alat musik ini dimainkan beberapa orang dengan harmonisasi sahut menyahut kaya akan  inprofisasi sehingga menghasilkan irama klasik merdu, merasuk kedalam tubuh hingga tulang belulang, perpaduan iramanya penuh penghayatan.

 

Gong dan Celempong di Rohul ditemukan sekitar 2.500 tahun  lalu di kawasan utara di tepi negara Vietnam, Berawal dari sebuah musik sederhana disebut dengan “Bosidingkek bosendayu” atau disebut juga dengan “gondang batak”, bagi masyarakat luhak Rambah disebut dengan “gondang tanah  botali rotan” alat musik tradisional ini cikal bakal dari gondang borogong.

 

Dikie dilakukan 10 sampai 12 orang  melantunkan kisah lahir nabi Muhammad, disebut dalam Maulid Soropal Onom, dalam berkisah dengan memakai bahasa arab tanpa bantuan alat musik, dilantunkan semua pezikir dengan berfariasi, kegiatan ini dilakukan duduk di tikar dan apabila berdiri pertanda diakhiri acara tersebut. Acara seperti ini dilakukan pada malam hari pada kegiatan cukur anak.

 

Burdah (Kosidah Burdah) dilakukan 10 atau lebih dengan posisi duduk dengan  membaca Kosidah Burdah memakai alat rabano, memakai bahasa arab isinya menghibur, memuji Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini dilakukan pada hajatan : kawin, menimang bonieh, malam moiniek padi, menyambut tamu, mandi koayie. Kosidah Rebana, Nyanyian lagu bernuansa Islami diiringi gendang rebana dimainkan kelompok kaum ibu-ibu, gendang rebana ukurannya besar dari gendang bobano. Berzanji,dilakukan 10 atau lebih dengan posisi duduk membaca buku Barzanji isinya kisah tentang perjuangan nabi Muhammad SAW dalam meneggakkan ajaran Islam dengan bahasa Arab tanpa diiringi rabano. Kegiatan ini biasa dilaksanakan untuk hajatan : bercukur anak, memberi nama anak.

 

Marhaban, bahasa Arab artinya “Selamat datang”. Nama kesenian Islam berkembang di  kebudayaan Melayu berupa menyanyikan syair-syair berbahasa Arab, diiringi dengan alat musik bobano, mengungkap keagungan dan keindahan akhlak dan kepribadian Rosulullah SAW, apabila sampai sholawat nabi, maka semua hadirin berdiri, seolah-olah menyambut kedatangan Rosulullah SAW ke majelis zikir. Gambus, musik hiburan berasal dari seni Islam dilengkapi alat musik gurun dan nyanyian gurun pasir berasal dari negeri arab, Koba, seni sastra lisan disampaikan seseorang dengan cerita atau berita, Sastra lisan Koba berfungsi sebagai media interaksi budaya, agama dan sosial dalam masyarakat melayu. Ratok, kesenian berupa syair ratapan dilakukan seorang wanita, sambil mengerak-gerakkan badannya, menepuk-nepuk paha dan dada atau menepuk lantai, sambil menyebut kata-kata pilu, sebaiknya ini digantika dengan ratik, sebab ratok dinilai tidak sejalan dengan nilai adat kabupaten Rohul.

 

Tari Tradisi, Tari Burong Kwayang,  dahulunya di Ulak Patian tari Burung Kwayang berawal dari pengobatan tradisional, semasa itu tidak ada dokter, mentri apalagi bidan, segala sesuatu tentang penyakit baik itu penyakit fisik maupun penyakit dari roh halus selalu dilakukan dengan pengobatan  tradisional dengan mengundang jin-jin dalam ritual pengobatan itu, dipimpin Bomo dalam tari disebut juga dengan Donda, dalam keseharian penyakitdisebut dengan anak cucu Datuk Said panjang jangguik dan Uak Paneh Sopotang. Ritual pengobatan dengan memanggil  jin-jin dan roh-roh, mohon disehatkan anak cucu tuk said panjang Jangguik, maka dibuatlah peserta pengebotannya, terdiri dari tukang panggil deo /jin (dandayang) disebut juga dalam tariannya tukang gondang, kemudian penari disebut pomanten, kemudian penari bebas beberapa orang disebut “pomanten bebeh”, lalu seorang menemani si sakit disebut “dubalang”.

 

Lukah Gilo,Tari ini melalui pawang sebuah alat tangkap ikan terbuat dari rotan akan dipertahankan orang banyak, lukah itu menggila dibawah komando sang pawang.
Pawang lazimnya dengan membacakan syair atau mantra sebagai berikut:
Siawasak siawasi Sibanndingsi sibalukahNonsonik bonamo lidi Galenggang tumbuh di bukik Mali-mali tumbuh dilurah Malenggang lukah sagigi Baju bosa pakai Allah Utang Pasik utang tungga Molayang sodaronyo Isi bona iki tunggak iki pake lah kopalo, dan lainya.

 

Cigak artinya awang-awang, samar-samar, samaran, permainan ini dilakukan dua kelompok saling mencari dan menangkap lawan, komandan dari kelompok tersebut dibungkus dengan daun-daun hijau dan kepala dibungkus dengan ijuk, setiap kelompok menyebar seperti berperang suku, jika orang dibungkus daun tersebut tertangkap maka kelompok itu dinyatakan kalah.


Dibagian hilir sungai Rokan ada juga permainan cigak dengan diiringi musik gondang borogong, tetapi kelompok ini tidak saling mencari tetapi menari-nari sambil membuat gerakan lucu, orang menari itu dibungkus dengan daun pisang kering dan kepalanya di bungkus dengan upieh (pelepah pinang) Poncak Silek, silat adalah gerakan, dipelajari berupa tehnik-tehnik mempertahankan diri dari serangan lawan, seni bela diri asli Melayu, dalam bentuk aliran-aliran berbeda-beda diantaranya: Silek tigo bulan, silek tondan, silek sendeng dan silek thariqat, sedangkan poncak silek berupa tarian silat, dengan diiringi alat musik gondang borogong.

 

Ronggeng, seni tarian diiringi dengan lagu melayu, kesenian ini dulunya populer dikalangan orang dewasa, dibawa kelompok pasar malam di Medan ke Pasirpengaraian (Rokan Hulu). Pertunjukan dibuka malam hari, beberapa judul lagu dengan tariannya sangat populer di masa itu yakni, Mak inang pulau kampai, Mak inang kampong, Mak inang kayangan, Itam Manis, Tanjong katong, Pampatam (serupa serampang 12), Serampang delapan, Serampang laut.

 

Tari Persembahan, merupakan seni asli Melayu juga telah menjadi budaya penyambutan tamu, wajib dalam menerima tamu pemerintahan di Rohul, para penari membawa tepak Palembang disuguhkan penari pada tamu terhormat, Tari ini diiringi dengan musik melayu, namun akhir-akhir ini dikolaborasi dengan gondang borogong.  Tari ini pada mulanya berasal dari Riou Kepulauan. Sebelum tari posombahan ini masuk ke Rohul tanah Melayu pedalaman, penyambutan tamu di suguhkan seni tari pencak silat, saat  ini penyambutan tamu agung dan terhormat, pencak silat dan gondang borogong dilaksanakan waktu tamu diterima di pintu gerbang, sedangkan tari posombahan dilaksanakan awal pembukaan  acara. Masih banyak lagi kesenian budaya Rohul dinilai cukup dijadikan asset daerah yaitu, dalam suku batak disebut Tor-tor, marhorja dan lainya.

 

Alat Musik Tradisional, di daerah Rohul, banyak kesamaanya dengan daerah melayu lain terutama diambil dari akar budaya Islam telah mengakar di daerah ini sejak dulu, namun namanya saja berbeda, sedangkan bentuk alat musik itu masih ada kemiripan baik pengoperasiannya. Alat musik tradisional yakni, Celempong, terbuat dari tembaga banyaknya enam buah sama ukurannya berlainan nadanya diletakkan diatas dua helai tali diatas kotak kayu, cembungan tembaga ditengah kalau dipukul akan mengeluarkan nada.

Ogong, bentuknya sama dengan celempong tetapi ukurannya besar, juga terbuat dari Besi atau tembaga digantungkan di tiang penyangga  dan cara memainkannya di pukul dengan pemukul dari kayu dilapisi karet. Tetawa, sama dengan Ogong dari fungsi dan bentuknya tetapi agak kecil sedikit, juga digantungkan.  Canang, sama bentuknya dengan celempong juga terbuat dari tembaga agak besar sedikit tetapi bentuknya tipis sedikit, digunakan untuk memberi tahu kabar dari penguasa negeri.

 

Canang kecil pertanda berita dari penghulu, kalau canangnya besar pertanda berita dari raja. Gembang fungsinya sama dengan celempong tetapi terbuat dari kayu merawan,  merobou atau kayu meranti dibelah dan banyaknya lima batang ukuran kurang dari 30 cent imeter, juga diletakkan di atas tali seperti memainkan celempong. Genggong, terbuat dari besi atau tembaga, kecil dan pipih, cara  memainkannya digigit dimulut dan diapit dengan bibir, ujungnya di petuk dengan menggerakkan mulut sambil ditiup akan memberikan nada berbeda-beda.

 

Suliang, bambu berlobang enam tekanan dan ditiup dari samping, Bansi, sama dengan suliang tetapi agak besar sedikit bambunya dan memiliki 7 atau 8 lobang biasa bansi terbuat dari bambu tolang. Gambas, Gondang, Kumpang , Babano,  Tipong,  Tabuh, Nakuih , Kokotuk  ,  Nakuih kecil diperuntukkan dirumah jaga (Behang) atau sebagai alat tanda bahaya diladang-ladang biasa dibuat dari kayu dan ada juga dari bamboo dan lainya.

 

Tradisi Ritual, Upah-Upah, sebuah kegiatan budaya dan tradisi orangtua, nenek-nenek dahulu, adapun kegiatan itu terkait dalam adat istiadat daerah Rohul, dikarenakan kegiatannya diselaraskan dengan kegiatan adat, dahulunya selalu diikutkan dalam adat beradat sesuai dengan pepatah adat “ Adat bosondikan syarak, syarak bosondikan Kitabullah” Adapun upah-upah berguna untuk do’a keselamatan, dilakukan dalam perbuatan orang tua-tua dahulunya tidak lari dari syariat Islam, tradisi ini patut memiliki makna dengan pepatah adatnya.

 

Tumbai, Nyanyian berisikan syair dan pantun, berupa mantra dilagukan untuk mengambil madu  lebah, sewaktu membuat ladang. contoh syair monumbai lebah yakni,  Somaso sigumbang merah, dang o...i andai mati dipikat sirajowali kami bogantong kopado Allah, dang o...ikami bosifat kopado nobi concang-concang kaki tonawan, dang o...i toconcang buku buluh, dang o...i datuk mambang di awan bintang non jangan dibori tumbuh contung-contung urang di ladang, dang o...i urang morakuk kopalo tiang monohai ungko dikasang monandokan ari dokekkan siang.


Menurut keyakinan masyarakat monumbai dilarang dilakukan di tengah ladang jika sudah ditanami padi, karena dapat menghilangkan somangek padi (padi akan menjadi hampa), jika sampai di atas pohon sialang dan pawang lebah selesai monumbai, maka anak rateh (anak buah) akan bertanya “Apo borito tanah Jambi” (Apa berita tanah jambi) menyahut si pawang “Tunggak torondom di kualo” (Tunggul terendam di kuala) jika manisan yang dijumpai berisi, apabila sarang lebah sambang (kosong) disebut dengan “Daun torok jatuh molayang” anak rateh juga memperingatkan si pawang agar hati-hati dengan ucapan “Toguh, toguh” (Teguh-teguh).


Muonduo/Monimang Anak, Rohul memiliki luhak dalam perwilayahan budaya melayu pedalaman, yaitu luhak Tambusai, Rambah, Kepenuhan, Kunto Darussalam dan Rokan IV Koto, masing-masing luhak memiliki budaya menimang anak dengan perlakuan sama secara umum, namun memiliki nama berbeda-beda. Di luhak Tambusai disebut Muonduo Anak, di Rambah disebut Timang Anak, di Rokan IV Koto Monimang Anak, sedangkan di luhak Rambah Muonduo yakni, mengayun tanpa nyanyian, Muonduo Anak/Monimang Anak cara menidurkan anak dengan di “timang” sedangkan timang itu lagunya dinyanyikan untuk menidurkan anak, berisikan syair dan pantun, dinyanyikan berulang-ulang dan dihentikan bila si anak telah tidur. Muonduo Anak/Monimang Anak dilakukan kedua orang tua kepada anaknya, boleh jadi bergantian dalam melakukan hal serupa sambil melakukan pekerjaan dirumah.

 

Dalam muonduo anak digunakan buiyan dibuat dari rotan disebut dengan “buayan tangguk” atau kain panjang dengan bermacam asesoris dan mainan menghiasi ayunan, digantung ditengah rumah, dilakukan pada saat siang hari waktu-waktu tidur anak sambil menganyam atau ayahnya sambil meraut rotan. Anak bukanlah suatu halangan bagi orang tua dalam melakukan aktifitas sehari-hari dirumah, justru sambil mendidik anak dengan timangannya. Kegiatan itu,  memiliki prilaku mendidik anak dari kecil sampai besar dengan pesan-pesan melalui syair, pantun dan lain sebagai media penyampai, didalamnya terdapat dasar dan sendi budaya melayu , sangat erat kaitannya dengan Islam dan melekat kuat dalam jiwa orang melayu Rohul, seperti syair pembukanya, Laillahailallah Muhammad rasulullah Kulmalikul hakkul mauubin Sodikul wa’adul amiin

 

Potang Bolimau,  kegiatan tradisi turun temurun daerah Rohul, bertujuan membersihkan diri zahir dan batin lebih kepada zahir dengan tanpa meninggalkan batin, disebut dengan hakikat, Lazimnya kegiatan Potang Bolimau ini dilaksanakan beramai-ramai pada akhir bulan Syakban dalam menyambut bulan suci Ramadhan dengan secara jemaah dilakukan di sungai-sungai, boleh di sumur atau ditempat sepatutnya.  Cara Potang Balimau  mengangkat limau ini dilakukan dengan cara menyapukan limau ke kepala, karena kepala adalah mortobat paling tinggi sedangkan limau sebagai bahan baku, tepatnya sebagai media pembersih dilengkapi dengan bungo rampai bahannya terbuat dari daun-daun dan bunga-bunga yang harum diramu sedemikian rupa sehingga mengeluarkan harum-haruman dan bau obatan alami sebagai simbol pembersihan zahir, berkaitan dengan sentuhan batin melalui do’a. Cara Berlimau baik dalam udaya Islam tidak dilaknat Allah serta terjerumus dalam perbuatan dosa maka dalam bolimau sesuai dilakukan oleh orang tua-tua pendahulu

 

Tulak balo sama dengan  tolak bala,  lazimnya dilakukan dipinggir sungai diakhir tahun Hijriah, dan menyambut bulan Muharam, tahun baru Islam, biasa dilaksanaknsetelah melakukan berbagai kegiatan pada malam atau hari-hari sebelumnya, seperti kegiatan seni sastra lisan bokoba, seni Islam lainnya, dilakukan penyebelihan hewan ternak seperti kambing dan selanjutnya menghanyutkan rakit berisi ramuan setelah dilakukan do’a

 

Permainan Rakyat yakni, Simbang, sejenis permainan anak-anak tradisional, dengan menggunakan batu, menggunakan dingkek kolikotai atau buah mato ijang sebanyak 6 buah simbang atau lebih dan satu buah batu lembong (batu dilambung ke atas), Singusang, Permainan kejar-kejaran, seorang anak diikat dengan kain sarung lalu ditarik dua atau lebih anak lainnya ke kiri dan ke kanan sambil menyanyikan syair Singusang, setelah dia mabuk maka dilepas, kemudian anak  ditarik-tarik tadi akan merasa dirinya menjadi seekor musang ganas dan siap menerkam mangsa (anak yang menarik musang jadian ini), Ingkek-ingkek,  permainan anak - anak dengan membuat garis berbentuk kotak-kotak di atas tanah, permainan dilakukan dengan melempar pecek (kepingan batu pipih), lalu berganti-gantian menempuh kotak-kotak,dibuat dengan sebelah kaki, syarat permainan tidak boleh memijak garis,  dilemparkan harus berada dalam garis, apabila ada pecek milik teman bermain di dalam kotak maka kotak itu tidak boleh dipijak, kotakt dapat dimiliki apabila telah memenuhi syarat tertentu, apabila kotak telah dimiliki  seseorang maka kotak  tidak boleh dipijak lawan main, kotak telah diberi tanda dengan coretan-coretan bergambar.

 

Gasiang, permaianan itu dari kayu  bentuk bulat, diputar dengan menggunakan tali, diberi kepala untuk melilit tali dan bagian ekornya diruncingkan, biasanya kayu  dijadikan gasiang pangkal kayu dalam tanah jenis pohon, kayu mato koliang, kayu rukom, kayu tomutun, kayu cocang, kayu potai. Permaianan lazim dilakukan bosololok (pertandingan paling lama putar), barang siapa mati urieh (berhenti dahulu) dia terpaksa merelakan gasiangnya di tingkah, apabila gasiang  ditingkah itu mati dan gasiang poningkahnya iduik urieh (tetap berputar) maka orang  gasiangnya ditingkah tadi harus memutar gasiangnya lagi untuk ditingkah kembali.

 

Apabila gasiang peningkah mati urieh, maka orang meningkah tadi harus merelakan gasiangnya untuk ditingkah pula, apabila gasiang poningkah cabuih (tidak mengenai sasaran) maka harus menaruh gasiangnya untuk ditingkah  lawan. Ada beberapa jenis gasiang dari bentuknya Gasiang jantong,  gasiang bentuknya panjang seperti jantung pisang, Gasiang kreseng, gasiang seperti belanga kreseng,  Gasiang panuk,  gasiang berbentuk seolah-olah berat kuat, seimbang dan kokoh, Gasiang picak pandak,  gasiang  bentuknya pipih, digunakan untuk bosololok (selama putar),  Gasang polito, bentuknya panjang dan tinggi, Gasiang poniang ,  gasiang tebuat dari buah pinang  diberi pasak untuk diputar dengan telapak tangan, Gasiang poriuk , bentuk seperti periuk, Gasiang Pujuh,  ukurannya kecil, agak bulat, pendek dan kepalanya kecil,  Gasiang Taka ukuranya seperti taka (kendi porselin atau gerabah)

 

Dingkek, permainan dingkek sama dengan permainan gasiang, sama-sama berlomba lama berputar dan meningkah (memukul lawan) Galah Panjangp, Permainan menghalangi lawan dengan membuat garis pembatas boleh dilalui dan kelompok penghalang berada pada garis tertentu dan tidak boleh keluar dari garis. Stinjau / Kaki Anggau Permaian sitinjau sama dengan permainan enggrang. Panjik Batang Pinang, Permainan ini ada sejak Belanda masuk ke Rokan Hulu, namun disetiap menyambut perayaan hari besar di setiap kampung selalu menyertakan kegiatan ini dalam keramaian masyarakat, bagi kalangan adat ini bukan budaya melayu.

 

Mengingat kekayaan khazanah kebudayaan, baik seni ukir, alat tradisional,  permainan rakyat, seni suara dan lainnya, bukan tindak mungkin jika Pemkab Rohul melalui Dinas Prawisata Seni  dan Budaya memiliki unit work shop atau balai latihan, sehingga tidak saja bentuk konsuptif dengan bantuan pemerintah, tetapi kereasi dan aktifitasnya dapat menambah lapangan kerja, bahkan, menjadi potensi sumber PAD bagi daerah Rohul. Tergantung kemampuan lidership dari top manajer pengelolaanya. []endarrambe

Daerah

Kamis 16 November 2017

FRPD Akan Gelar Diskusi Dana Desa

FRPD Akan Gelar Diskusi Dana Desa

Bangkinang Kota (riauoke.com)- Serikat rakyat miskin indonesia (SRMI), liga mahasiswa nasional demokrasi (LMND), dewan...

Ekonomi

Pendidikan

Hukum

Olahraga

Politik

Selasa 31 Oktober 2017

Pemkab Siak Akan Bantu 12 Parpol Peseta Pemilu

Siak (riauoke.com) Pemerintah Kabupaten Siak akan memberikan bantuan keuangan kepada 12 partai politik peserta pemilu...