Sabtu, 25 November 2017

Mengenang Sosok Djati Sussetya yang Bersahaja

PEKANBARU-Ada sms mengejutkan tadi pagi dari Mbak Rinta dari PT CPI, tadi pagi. Biasanya sms dari Mbak Rinta atau Mas Okta yang biasa berhubungan dengan awak media, kaitannya tak jauh-jauh dari info liputan seputar kegiatan yang digelar PT CPI. Tapi pagi tadi sms itu diawali dengan kalimat; innalillaahi wa inna ilaihi raajiuun..

 

Dengan perasaan tak sabar dan deg-degan, saya meneruskan membaca, dan ternyata, oh, Pak Djati Sussetya, mantan Manager General Affairs PT CPI sudah berpulang ke rahmatullah pada pukul 08.45 WIB di RS Awal Bros, Pekanbaru.

Malam sebelumnya, di facebook saya membaca status Bapak Hanafi Kadir, mantan kolega Pak Djati di PT CPI yang juga sudah sangat familiar dengan awak media, tentang kondisi Pak Djati yang sedang dirawat di ruang ICU RS Awal Bros.  Ada doa yang disampaikan, semoga Beliau cepat pulih.  Saya berniat akan mengajak teman wartawan yang biasa meliput kegiatan di Chevron untuk membezuk Beliau.

Namun apa daya, Tuhan sudah lebih dulu memangilnya. Pak Djati meninggal dunia pada usia 57 tahun, Senin (8/10) pukul 08.10 WIB di RS Awal Bros, Pekanbaru. Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Griya Indah Blok D Nomor 13, Rumbai, Pekanbaru dan rencananya akan dimakamkan malam ini pukul 20.00 di Pemakaman Yayasan Kesatuan Pendidikan Islam (YKPI) Rumbai.

 

Saya teringat kali terakhir bertemu Pak Djati, adalah saat peresmian venue wushu PON XVIII di Rumbai, awal September 2012 lalu. Pak Djati yang sudah pension, terlihat hadir dan duduk bersama karyawan Chevron lainnya. Kami para awak media yang sudah lama tak berjumpa pak Djati, begitu melihat Beliau, langsung mendekat. Saya masih ingat, H-We, wartawan riauterkini.com, bahkan sampai mencium tangan Pak Djati saat mereka bersalaman. Lalu kami terlibat pembicaraan yang akrab tentang banyak hal. Pak Djati duduk bersama kami para wartawan.

Beberapa waktu sebelum itu, saya juga pernah bertemu dengan Pak Djati yang duduk sebagai anggota Yayasan Politeknik Caltex Riau  (PCR). Bila ada acara-acara penting, Pak Djati selalu terlihat hadir.

Seorang  Djati Susetya, menurut saya, adalah sosok yang bersahaja, ramah dan sangat menghargai orang lain. Ia tidak banyak bicara dan kalau bicara, selalu bernas, hati-hati dan sopan. Tidak pernah saya dengar ada yang tersinggung karena Beliau.

Saya mengenal Pak Djati sebenarnya sejak 10 tahun silam. Kala itu, Chevron masih bernama Caltex. Saya  ditugaskan untuk mewawancarai Beliau. Kami bertemu di kantornya yang rapi dan bersih. Seperti habit orang-orang Chevron lainnya, wawancara dimulai tepat waktu, sesuai dengan yang telah kami sepakati. Pak Djati yang kala itu menjabat sebagai Manager Public Affairs Sumatra, melayani kami dengan ramah.

Teringat saat terakhir bertemu, H-We bertanya pada Pak Djati, dimana ia menetap setelah pensiun. Pak Djati mengatakan tetap di Pekanbaru. “Bukan di Jakarta?” tanya H-We. Pak Djati mengatakan tidak, karena ia tidak tahan dengan macetnya. Ternyata, keinginan Pak Djati tercapai, ia tetap berada di Pekanbaru, karena jasadnya dimakamkan di Pemakaman YKPI Al Ittihad, Rumbai, setelah sebelumnya dishalatkan di Masjid Madinatul Ilmi, komplek PCR.

Pak Djati merupakan salah seorang pendiri PCR. Saya teringat saat PT CPI menggelar konferensi pers untuk mengabarkan tentang rencana perusahaan itu membuka politeknik, sekitar 12 tahun lalu. Misi pendirian politeknik ini amatlah mulia, yaitu memberikan kesempatan kepada generasi muda Riau untuk menimba ilmu di politeknik berkualitas. Orang Riau menjadi prioritas. Terbukti, 11 tahun kemudian atau tahun ini, berbagai prestasi diukir para mahasiswa PCR. Belum lulus saja, mereka sudah diminta bekerja, sebagian besar bekerja di perusahaan minyak dan gas.

Misi itu tercapai. Sekarang, nama PCR sebagai politeknik bergengsi, menggaung sampai kemana-mana. Mahasiswanya tidak lagi datang dari Riau, melainkan dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, bahkan Kalimantan dan Sulawesi.

Berbicara tentang PCR, Pak Djati sangat antusias. Katanya, hasil survey menunjukkan, sebagian besar mahasiswa baru PCR mengetahui tentang kampus itu ternyata bukan dari iklan atau berita, tapi dari teman. Kami para wartawan tertawa semua mendengarnya.

Kini, sosok bersahaja dan baik itu sudah pergi. Selamat jalan Pak Djati, semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Pak Djati, saya, kami, bangga pernah mengenal sosok seperti Bapak… []ian

Daerah

Ekonomi

Pendidikan

Hukum

Olahraga

Politik

Selasa 31 Oktober 2017

Pemkab Siak Akan Bantu 12 Parpol Peseta Pemilu

Siak (riauoke.com) Pemerintah Kabupaten Siak akan memberikan bantuan keuangan kepada 12 partai politik peserta pemilu...