Sabtu, 25 November 2017

Hari Kebangkitan Nasional 2013, Tahun Kebangkitan Riau

Hari ini, 105 tahun lalu, telah berdiri suatu organisasi yang bernama  Boedi Oetomo. Organisasi ini didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Penggagasnya Dr. Wahidin Sudirohusodo. Awalnya bukan organisasi politik, tapi lebih kepada organisasi sosial, ekonomi dan kebudayaan. Namun seiring perjalanan waktu, Boedi Oetomo menjadi cikal bakal gerakan untuk kemerdekaan Indonesia.



Setelah Boedi Oetomo berdiri, 20 Mei 1908, lalu berdiri pula partai politik pertama di Indonesia Indische Partij (1912). Kemudian di tahun yang sama Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang. Nah, kelahiran Boedi Oetomo ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional karena sebagai pelopor organisasi kebangsaan.

Kebangkitan nasional merupakan peristiwa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selama masa penjajahan, semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul hingga berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Setelah satu abad lebih, apakah semangat kebangkitan nasional itu masih ada? Jawabannya, tentu masih ada, walaupun intensitasnya agak berbeda. Semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme masih tinggi. Lihatlah ketika kesebelasan sepakbola kita melawan luar negeri. Meskipun sering kalah, namun semangat Merah Putih tetap tinggi. Begitu pula ketika sejumlah kesenian tradisional kita diserobot negera tetangga, hampir semua mencerca negeri jiran tersebut.

Namun riak-riak yang mengancam persatuan dan kesatuan masih saja terjadi. Misalnya, masih ada semangat menaikkan bendera selain Merah Putih. Selain itu, masih ada perselisihan antar suku dan agama. Sampai hari ini masih ramai diberitakan tentang aksi terorisme. Alhamdulillah, riak-riak itu masih dapat diatasi dengan baik oleh pemerintah sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap terjaga

Peran Riau

Sebagai bagian dari NKRI, Riau telah memainkan perannya jauh sebelum kebangkitan nasional. Diawali dari perlawanan rakyat menumpas penjajahan Belanda.  Dalam Perang Riau (1782-1784), panglima perang Raja Haji Fisabilillah berhasil menumpas kekuatan Belanda. Benteng pertahanan di Pulau Penyengat dapat dikuasai. Raja Haji Fisabilillah yang bermakam di Pulau Penyengat (kini masuk Kepulauan Riau), telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Begitu pula peran Tuanku Tambusai dalam Perang Paderi (1821-1837). Bersama-sama dengan Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Nan Cerdik, Tuanku Tambusai melawan kekuasaan kolonial Belanda.  Dengan membuat pertahanan di Benteng Tujuh Lapis (sekarang masuk Rokan Hulu), Tuanku Tambusai berhasil menyingkirkan Belanda. Tuanku Tambusai pun telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dengan gelar Tuanku Tambusai Harimau Rokan.

Pahlawan Nasional kita yang lain adalah Raja Ali Haji. Pengarang Gurindam Dua Belas yang sangat terkenal itu, diangkat sebagai.Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia. Sesuai dengan Sumpah Pemuda 1928, Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Persatuan Indonesia. Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu Riau. Maka, pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Raja Ali Haji merupakan penghargaan terhadap Riau.

Kecintaan terhadap Indonesia juga ditunjukkan oleh Sultan Syarif Qasim II, Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura terakhir. Walaupun dibawah tekanan Belanda, Sultan Syarif Qasim II menyatakan bergabung dengan Indonesia setelah Kemerdekaan Indonesia. Bahkan, Sultan tanpa keberatan menghibahkan harta dan kekayaan Istana ke pemerintahan Indonesia.

Kebangkitan Riau

Peran Riau tidak hanya memperjuangkan kemerdekaan, tapi juga dalam mengisi kemerdekaan. Sejumlah putra terbaik Riau pernah diangkat sebagai pejabat tinggi negara. Sebut diantaranya, mantan Mendagri Syarwan Hamid dan mantan Menteri PDT Lukman Edy. Kita juga punya ilmuan dan tenaga ahli di tingkat nasional seperti Prof Maswadi Rauf, Alfitra Salamm, Reza Indragiri, Revrison Baswir, Autar Abdillah dan lainnya. Bahkan, di tingkat Internasional kita punya Prof Irwandi Jaswir dan Dr. Maizirwan.

Di bidang kebudayaan, peran Riau juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Sariamin Ismail alias Selasih Saliguri termasuk Pujangga Baru.  Budayawan Soeman Hs tergabung dalam sastrawan Angkatan 45. Menyusul Angkatan 66, Sutardji Calzoum Bachri dan Leon Agusta. Selanjutnya ada Idrus Tintin, Ediruslan Pe Amanriza, Fakhrunnas MA Jabbar, Taufik Ikram Jamil dan seterusnya.

Satu-satunya budayawan Riau yang masih diperhitungkan, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga Internasional, adalah DR (PS) H. Tenas Effendy. Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) itu sampai sekarang masih menjadi pensyarah (dosen) di berbagai perguruan tinggi di Malaysia. Terakhir, penulis buku Tunjuk Ajar Melayu, itu dianugerahi Darjah Gemilang Seri Malaka (D.G.S.M) dengan gelar Datuk.   

Sengaja nama-nama tersebut saya munculkan untuk menggambarkan bahwa peran Riau di tingkat nasional cukup besar, bahkan sampai ke luar negeri. Lebih dari itu, saya ingin membuka mata kita bahwa putra-putri Riau punya potensi yang tidak kalah dengan daerah lain. Hanya saja, tidak semua dari mereka punya kesempatan untuk berbakti pada bangsa dan negara.

Riau selama ini dikenal sebagai penyumbang devisa terbesar untuk nasional melalui minyak dan gas bumi. Riau juga sebagai penyumbang utama Bahasa Indonesia. Kita tidak dapat bayangkan, bagaimana komunikasi yang terjadi, jika Bahasa Indonesia bukan berasal dari Bahasa Melayu Riau. Yang pasti, kontribusi Riau untuk nasional tidak perlu diragukan lagi.

Namun kenapa Riau masih belum ‘’diperhitungkan’’ di tingkat nasional? Kenapa Riau masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah pusat? Buktinya, ketika pengangkatan menteri atau pengisian kabinet, Riau tidak masuk dalam pertimbangan. Beda dengan saudara kita dari Aceh, Bali, Maluku, Makassar, atau Papua. Ketika wakil dari mereka tidak ada, maka terpaksa dicari-cari. Tetapi ketika wakil Riau tidak ada, dianggap hal yang biasa saja. Bahkan, ketika Menteri PDT Lukman Edy diganti, tidak ada yang mempertanyakan.

Jawaban pertanyaan tadi  hanya satu : kita harus bersatu. Selama ini, perjuangan yang dilakukan terkesan sendiri-sendiri. Padahal, jika dilakukan bersama-sama, bahkan dengan stakeholder lainnya, perjuangan itu yakin akan tercapai.

Momentum Kebangkitan Nasional 2013 ini, hendaknya dijadikan sebagai langkah awal untuk Riau bangkit dan diperhitungkan di tingkat nasional. Riau punya potensi sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia, yang unggul dibandingkan dengan daerah lain. Potensi ini harus disinergikan untuk menjadikan Riau Kemilau. ***

Penulis adalah Bendahara Umum DPP PAN

Daerah

Ekonomi

Pendidikan

Hukum

Olahraga

Politik

Selasa 31 Oktober 2017

Pemkab Siak Akan Bantu 12 Parpol Peseta Pemilu

Siak (riauoke.com) Pemerintah Kabupaten Siak akan memberikan bantuan keuangan kepada 12 partai politik peserta pemilu...