Sabtu, 25 November 2017

Potret Perubahan Baru di PTPN V

Banyak petani sawit di Riau bila harga jual tandan buah segar (tbs)  dibawah Rp700/kg,  wajah mereka tampak kumal dan  frustasi.  Termasuk petani tranmigrasi  dulu dianggap manusia buangan di era rezim Soeharto,  tapi sejak reformasi bergulir dunia tranmigrasi dianggap primadona  dan punya prospek cerah karena mampu  membesarkan manusia-manusia miskin menjadi hidup layak dan punya masa depan.




PTPN V, terbilang pernah  sukses besar menjadi bapak angkat warga tranmigrasi,   hanya saja, warna  keberhasilan itu seakan terlupakan, bahkan seperti kata pepatah kuno, PTPN V bak seperti memilihara anak harimau alias sudah besar kerap mencakar tuannya.

Tak jarang PTPN V jadi bulan-bulanan kaum pendemo. Oh malangnya nasibmu PTPN V?. Seharusnya PTPN V diberi jalan lempang demi kelanjutan masa depan ribuan karyawannya.

Tapi kenyataanya alam demokrasi yang penuh keterbukaan ini membuat warna kehidupan di sepanjang negeri tampak menjadi buram kelabu.  

Perlu dicatat dalam jumlah besar, kehadiran PTPN V banyak membuat perkampungan “tersolir” dikecamatan mendadak menjadi potensial. Termasuk   di Rohul, kehadiran pendatang ingin merubah nasib tampak terus bergulir.

Sudah banyak beranak cucu dan punya hak yang sama sebagai warga negara Indonesia. Tapi  karena kemiskinan, ketidakadilan membuat masih ada saja warga negara kita  di Rohul merasa dipinggirkan akibat suku agama dianutnya tidak sama dengan peguasa daerah. Kerasnya arus tuntutan zaman membuat roda kehidupan  gamang berbentuk anarkis dan kekerasan.


Namun warna kemajuan di Rohul sudah jauh berubah dari sepuluh tahun lalu, gaya hidup orang kampung yang dulu hanya petani yang berpindah-pindah dan banyak hidup miskin dari hasil memancing ikan di Sungai Rokan, dan  tinggal di gubuk reot sebesar kandang ayam,  kini sudah jauh berubah total meninggakan kebodohan.

Bersama berjalannya waktu, kebiasaan mereka suka bermalas-malasan sudah tak terlihat lagi. Bahkan mereka sudah bisa shoping ke Mall di kota Pekanbaru, dan tinggal di apartemen sederhana, kebun pisang dan pohon ragam buah-buahan mereka gantikan dengan kebun sawit.

Hanya saja,  jatuh bangunnya harga sawit sering membuat mereka mendadak miskin. Termasuk akibat  harga pupuk di negeri terus melambung tinggi,  dipicu ketidakmampuan pemerintah merealisasikan pemerataan membuat nasib petani kecil terkesan  diabaikan.

Pemerintah belum banyak berbuat demi kelanjutan masa depan  petani. Pemerintah rawan korup, kepentingan partai lebih diprioritaskan ketimbang mengurus nasib petani banyak mati suri. Pemerintah  tak peduli, sekalipun sudah masuk didalam anggaran, tapi jeritan petani masih terus dirundung kerugian karena ketahanan ekonomi negeri terkesan penuh rekayasa?


Ragam produksi yang sudah dicapai kaum petani kadang harganya belinya dari petani sangat rendah dan tidak manusiawi. Pemerintah cenderung menjadikan petani sebagai objek ketimbang subjek. Bahkan terobosan baru membangun nasib petani menuju sejahtera hanya wancana belaka. Pemerintah kita malas bisanya mengeruk uang rakyat dan hidup mewah diatas penderitaan orang lain.


Entah sampai kapan, warna perubahan petani bisa makmur sejahtera, petani banyak  frustasi karena negeri ini  masih penuh terkegantungan pada negara lain. Sudah saatnya pemerintah fokus pada nasib petani terus bermimpi membuka dan membeli lahan sawit sehingga hutan belukar di Riau sudah berubah menjadi lahan perkebunan sawit. Sekilas dipandang,  kehadiran petani-petani sawit di Rohul  tampak sudah hidup sejahtera, tapi itu  hanya dicapai oleh petani-petani berdasi saja, bagi mereka yang hanya memiliki satu kapling (2Hektar) hasilnya hanya cukup untuk buat makan saja.   


Harus diakui, kehadiran petani sawit itu membuat banyak daerah tersolir di Rohul  kini tampak  marak dengan kemajuan. Kepemimpinan Achmad selaku Bupati Rohul  dua priode tampak menuai ragam kritikan. Achmad sosok bapak pencetus kerasnya disiplin kerja bagi semua PNS di Rohul patut diacungkan jempol. Paling tidak, Rohul kini sudah bisa menerima ragam pendatang untuk berkarya nyata.   

Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PTPN V, Syamsul Rizal Lubis ketika dihubungi penulis lewat telepon selulernya (16/11) diminta pendapatnya tentang maju pesatnya SDM di kebun BUMN dalam dua tahun terakhir ini tidak bisa dihubungi.   Semoga keberhasilan program SDM PTPN V membudayakan suka kerja keras meningkatkan produksi demi terwujud karyawan hidup sejahtera.


Termasuk janji-janji Achmad membawa Rohul bisa menjadi swasembada beras dapat diwujudkan, fakta sudah membuktikan,  hadirnya banyak perusahan sawit kelas kakap di Rohul tidak menjamin lahirnya kesejahteraan. (Ronggur G, Penulis Lepas dan Karyawan, Bagian Umum PTPN V Kebun Sei Rokan-Rohul)

 

Daerah

Ekonomi

Pendidikan

Hukum

Olahraga

Politik

Selasa 31 Oktober 2017

Pemkab Siak Akan Bantu 12 Parpol Peseta Pemilu

Siak (riauoke.com) Pemerintah Kabupaten Siak akan memberikan bantuan keuangan kepada 12 partai politik peserta pemilu...