Minggu, 25 Pebruari 2018

Potret Perubahan Baru di PTPN V

Banyak petani sawit di Riau bila harga jual tandan buah segar (tbs)† dibawah Rp700/kg,† wajah mereka tampak kumal dan† frustasi.† Termasuk petani tranmigrasi† dulu dianggap manusia buangan di era rezim Soeharto,† tapi sejak reformasi bergulir dunia tranmigrasi dianggap primadona† dan punya prospek cerah karena mampu† membesarkan manusia-manusia miskin menjadi hidup layak dan punya masa depan.




PTPN V, terbilang pernah† sukses besar menjadi bapak angkat warga tranmigrasi,†† hanya saja, warna† keberhasilan itu seakan terlupakan, bahkan seperti kata pepatah kuno, PTPN V bak seperti memilihara anak harimau alias sudah besar kerap mencakar tuannya.

Tak jarang PTPN V jadi bulan-bulanan kaum pendemo. Oh malangnya nasibmu PTPN V?. Seharusnya PTPN V diberi jalan lempang demi kelanjutan masa depan ribuan karyawannya.

Tapi kenyataanya alam demokrasi yang penuh keterbukaan ini membuat warna kehidupan di sepanjang negeri tampak menjadi buram kelabu. †

Perlu dicatat dalam jumlah besar, kehadiran PTPN V banyak membuat perkampungan ďtersolirĒ dikecamatan mendadak menjadi potensial. Termasuk†† di Rohul, kehadiran pendatang ingin merubah nasib tampak terus bergulir.

Sudah banyak beranak cucu dan punya hak yang sama sebagai warga negara Indonesia. Tapi† karena kemiskinan, ketidakadilan membuat masih ada saja warga negara kita† di Rohul merasa dipinggirkan akibat suku agama dianutnya tidak sama dengan peguasa daerah. Kerasnya arus tuntutan zaman membuat roda kehidupan† gamang berbentuk anarkis dan kekerasan.


Namun warna kemajuan di Rohul sudah jauh berubah dari sepuluh tahun lalu, gaya hidup orang kampung yang dulu hanya petani yang berpindah-pindah dan banyak hidup miskin dari hasil memancing ikan di Sungai Rokan, dan† tinggal di gubuk reot sebesar kandang ayam,† kini sudah jauh berubah total meninggakan kebodohan.

Bersama berjalannya waktu, kebiasaan mereka suka bermalas-malasan sudah tak terlihat lagi. Bahkan mereka sudah bisa shoping ke Mall di kota Pekanbaru, dan tinggal di apartemen sederhana, kebun pisang dan pohon ragam buah-buahan mereka gantikan dengan kebun sawit.

Hanya saja,† jatuh bangunnya harga sawit sering membuat mereka mendadak miskin. Termasuk akibat† harga pupuk di negeri terus melambung tinggi,† dipicu ketidakmampuan pemerintah merealisasikan pemerataan membuat nasib petani kecil terkesan† diabaikan.

Pemerintah belum banyak berbuat demi kelanjutan masa depan† petani. Pemerintah rawan korup, kepentingan partai lebih diprioritaskan ketimbang mengurus nasib petani banyak mati suri. Pemerintah† tak peduli, sekalipun sudah masuk didalam anggaran, tapi jeritan petani masih terus dirundung kerugian karena ketahanan ekonomi negeri terkesan penuh rekayasa?


Ragam produksi yang sudah dicapai kaum petani kadang harganya belinya dari petani sangat rendah dan tidak manusiawi. Pemerintah cenderung menjadikan petani sebagai objek ketimbang subjek. Bahkan terobosan baru membangun nasib petani menuju sejahtera hanya wancana belaka. Pemerintah kita malas bisanya mengeruk uang rakyat dan hidup mewah diatas penderitaan orang lain.


Entah sampai kapan, warna perubahan petani bisa makmur sejahtera, petani banyak† frustasi karena negeri ini† masih penuh terkegantungan pada negara lain. Sudah saatnya pemerintah fokus pada nasib petani terus bermimpi membuka dan membeli lahan sawit sehingga hutan belukar di Riau sudah berubah menjadi lahan perkebunan sawit. Sekilas dipandang,† kehadiran petani-petani sawit di Rohul† tampak sudah hidup sejahtera, tapi itu† hanya dicapai oleh petani-petani berdasi saja, bagi mereka yang hanya memiliki satu kapling (2Hektar) hasilnya hanya cukup untuk buat makan saja.† †


Harus diakui, kehadiran petani sawit itu membuat banyak daerah tersolir di Rohul† kini tampak† marak dengan kemajuan. Kepemimpinan Achmad selaku Bupati Rohul† dua priode tampak menuai ragam kritikan. Achmad sosok bapak pencetus kerasnya disiplin kerja bagi semua PNS di Rohul patut diacungkan jempol. Paling tidak, Rohul kini sudah bisa menerima ragam pendatang untuk berkarya nyata.† †

Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PTPN V, Syamsul Rizal Lubis ketika dihubungi penulis lewat telepon selulernya (16/11) diminta pendapatnya tentang maju pesatnya SDM di kebun BUMN dalam dua tahun terakhir ini tidak bisa dihubungi.†† Semoga keberhasilan program SDM PTPN V membudayakan suka kerja keras meningkatkan produksi demi terwujud karyawan hidup sejahtera.


Termasuk janji-janji Achmad membawa Rohul bisa menjadi swasembada beras dapat diwujudkan, fakta sudah membuktikan,† hadirnya banyak perusahan sawit kelas kakap di Rohul tidak menjamin lahirnya kesejahteraan. (Ronggur G, Penulis Lepas dan Karyawan, Bagian Umum PTPN V Kebun Sei Rokan-Rohul)

Daerah

Ekonomi

Pendidikan

Hukum

Olahraga

Politik

Rabu 21 Februari 2018

Bersama Masyarakat Tembilahan, Tim KARIB Siap Menangkan Syamsuar-Edy di Inhil

Bersama Masyarakat Tembilahan, Tim KARIB Siap Menangkan Syamsuar-Edy di Inhil

Tembilahan (riauoke.com)  Riauin.com - Salah satu kandidat terkuat pada Pemilihan Gubernur Riau 2018 yakni pasangan...