Sabtu, 25 November 2017

Soal Bakso Mekar, Viral di Media Sosial

Pekanbaru (riauoke.com) Para pedagang bakso mengeluh atas anjloknya hasil jualan bakso sejak munculnya pemberitaan terkait publis BBPOM terhadap Bakso Mekar di Pekanbaru. Seluruh pedagang bakso jadi susah dan sedih atas usaha yang digeluti beratahun- tahun tiba- tiba terjun bebas omset penjualannya.




Walaupun sudah ada surat dari Dinas Kesehatan untuk membuka kembali usaha bakso mekar tetapi tidak semudah membalik tangan, butuh waktu panjang untuk memulihkannya. Pedagang bakso Pekanbaru sangat terpukul dan menyatakan menderita kerugian besar. Setidaknya sudah beberapa hari mereka dibuat kelimpungan. Sepi pengunjung dan menjadi pembicaraan bernada miring.

Semuanya berpuncak dari bocornya surat BPPOM Pekanbaru perihal rekomendasi penghentian sementara kegiatan warung bakso mekar yang dikeluarkan pada tanggal 23 Agustus 2017 lalu.


Entah bagaimana ceritanya surat yang belum saatnya untuk dipublikasikan untuk kepentingan publik - viral di dunia maya media sosial ( Medsos) seperti WA dan Face Book. Surat dari BPPOM yang baru proses pemberitahuan hasil uji laboratorium terhadap sampel pangan siap saji sebenarnya hanya ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru untuk uji tindak lanjut.

Obyek uji laboratorium yang di ambil sampelnya Bakso Mekar yang membuka usaha di Jalan Ahmad Dahlan. Hasil pengujian BPPOM menyatakan terdeteksi mengandung fragmen DNA spesific parcine ( babi). Langkah BPPOM jadi hiruk pikuk, sebab tercatat belum sampai sebulan pemberitaan di media cetak dan elektronik BPPOM menutup usaha kedai kopi legendaris Kimteng dan akhirnya buka kembali.

Kontan saja viralnya bocoran surat BPPOM Tidak hanya menjadi bencana pemilik usaha Bakso Mekar tetapi berdampak fatal ke seluruh pedagang bakso di Pekanbaru. Data sementara yang di peroleh jumlah pedagang bakso diperkirakan sekitar 567 orang yang memiliki usaha bakso dan mie ayam.

Terang saja, meski hanya sepucuk surat membuat panik usaha yang terkait dengan warung bakso. Dampaknya begitu luar biasa, sebab mata rantai warung bakso saling terkait kelindan, tidak berdiri sendiri- sendiri. Dari mulai penjual daging, tepung, bumbu, penyedia jasa mesin gilingan terus pemilik warung bakso serta pelanggan kuliner bakso.

Dari 567 pedagang bakso rata- rata adalah pelaku usaha kecil menengah. Jelas belum mampu menyediakan daging segar memotong sapi sendiri. Hal yang sama mereka juga belum memiliki mesin gilingan sendiri. Itu butuh modal besar. Kendati demikian pelaku usaha ini tidak pernah merepotkan pemerintah seperti minta bantuan dana APBD. Mereka pelaku usaha yang mandiri malahan boleh disebut membantu tegaknya perekonomian pemerintah.

Hanya sedikit pemilik warung Bakso di Pekanbaru yang terbilang kategori usaha besar, yang mampu menyiapkan dari hulu sampai hilir. Menyembelih sapi dan memiliki gilingan sendiri. Sementara ratusan lainnya tidak ada pilihan lain, mereka membeli dan menggiling daging di pasar yang melayani ramai orang.

Kendati demikian para pedagang taat mengurus izin usaha dan melengkapi semua persyaratan yang di wajibkan pemerintah. Jangan lupa mereka juga sangat komitmen dalam pelayanan. Bagi pedagang bakso usahanya adalah tempat mencangkul rezekinya, maka akan dijaga secara teliti terutana faktor higines dan halal. Secara logika pedagang bakso yang menggantungkan hidupnya dari jualan bakso tidak mungkin berani mencampur daging celeng, mereka Beragama Islam dan tahu persis daging halal dan haram.

Justeru menjadi pertanyaan ketika hasil sampel sampai 4 bulan baru dikeluarkan. Jika BPOM belum bisa memastikan adanya kesengajaan tidak seharusnya menutup usaha bakso apalagi mengumumkan ke publik. Karena dampaknya tidak hanya pemilik warung bakso mekar tetapi juga berimbas kepada para pedagang bakso yang jumlahnya 567 di Pekanbaru, apalagi setelah berita viral menyebar ke seluruh Indonesia.

Terlepas dari semua yang sudah terjadi semua pihak dalam bertindak harus arif dan bijak setiap melakukan tindakan. Begitu juga para pedagang bakso dituntut lebih berhati- hati menjaga kwalitas dan kehalalannya. Serta melengkapi syarat perizinan yang ditentukan oleh pemerintah. Begitu juga pelaku usaha jasa penggilingan mesti juga menjaga komitmen, tidak mencampur atau menggunakan alat penggilingan untuk daging halal dan non halal. Dan cara ini bagian dari komitmen pelayanan.

Hikmah dari kasus yang terjadi paguyuban dan pedagang bakso pro aktif mengadakan pertemuan untuk merumuskan rencana program kerja yang teragenda agar tidak terulang kembali kasus serupa, karena dampaknya sangat buruk dan merugikan banyak pihak terutama pedagang bakso. Agar tidak berlarut- larut , paguyuban dan pedagang bakso mengambil langkah cepat mengadakan konsultasi dan pertemuan dengan semua pihak terkait. Hari kamis (31/8), para pedagang bakso mengadakan acara temu sedulur di Warung Bakso Mekar jalan Ahmad Dahlan yang dibanjiri pengurus dan anggota Paguyuban Masyarakat Solo Riau ( PAMOR) berbaur dengan pelanggan yang setia bakso mekar.

Mereka melontarkan keluh kesah dan beratnya memulihkan usaha bakso setelah diterjang pemberitaan yang luar biasa, Kami pedagang bakso mohon kepada pemerintah dan BBPOM untuk ikut merasakan perih dan sulitnya mempertahankan usaha bakso. Itulah jeritan hati Haryanto mewakili pedagang bakso lainnya.

Mereka merintis usaha tidak secepat gerai modern yang didukung fasilitas serta mudah mendapatkan modal pinjaman. Para pedagang bakso rata- rata menapaki usahanya dengan modal sendiri dan panjang waktunya, diatas 20 tahun untuk bisa eksis. Contoh bakso mekar sejak tahun 2004 menyewa ditempat yang sama dulu masih bangunan rumah sekarang berubah ruko.

Usaha warung bakso ini satu- satunya ladang mengais rezeki . Setiap ada kasus atau kejadian atau kesalah pahaman, pedagang bakso dipaksa merangkak kembali dari nol untuk bisa seperti sedia kala. Kami mohon pak cara seperti ini tidak terulang lagi tidak hanya dengan saya tetapi juga kawan- kawan tukang bakso lainnya kata Susi isteri pemilik Bakso Mekar.

Ternyata isyu miring tentang usaha Bakso sering terjadi. Tragisnya karena tidak ada pemberitaan yang seimbang, tidak ada pihak yang mengulurkan tangan pembinaan serta advokasi hukum mereka menanggung derita menutup usahanya.

Contoh tahun 90-an, di isyukan bakso cacing. Bahwa ada pedagang Bakso yang menuntut pesugihan menaruh cacing supaya kuahnya sedap. Karena tidak ada pembelaan dan pemberitaan yang berimbang akhirnya pemilik warung bakso menutup usahanya dan menanggung beban moral hingga sakit. Padahal fakta yang terjadi akibat ulah pemerasan preman . Setiap hari tukang bakso di minta duit dan makan bakso gratis. Suatu hari Karena tukang bakso tidak sanggup lagi sang Preman sengaja memasukkan cacing ke baskom lalu di fitnah di sebarkan Bakso Cacing.

Banyak masukan dan keluhan pedagang bakso kepada pengurus dan anggota PAMOR yang menggelar pertemuan di warung Bakso Mekar. Banyak kalangan yang bersimpati dan memberikan dukungan antara lain majelis pertimbangan Edy Kusdarwanto, Dewan Pakar Rachmat yang juga Dokter Hewan, Dewan Penasehat Tugimin dan saya penulis Bagus Santoso sebagai Ketum PAMOR - lengkap dengan pengurus harian plus biro bisnis, kewirausahaan & UKM. Hadir juga tamu istimewa pimred koran tribun Dodi Sarjana, sejumlah awak media serta anggota Polisi.

Menanggapi persoalan pedagang bakso, penulis memberikan motivasi untuk tetap istiqomah serta terus berikhtiar supaya usaha kembali pulih. Maka dengan sengaja digelar temu sedulur di warung bakso mekar,sebagai rasa simpati dan dukungan, dengan harapan semua pedagang bakso tetap bersemangat. Setiap persoalan yang muncul membawa hikmah dan menumbuhkan daya juang berusaha lebih maju dan sukses.

Heboh pemberitaan warung bakso Mekar akhirnya kelar. Beriring sikap tanggap Firdaus sebagai Wali Kota Pekanbaru. Dengan keluarnya surat Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. Saya mewakili para pedagang bakso mengucapkan terima kasih kepada pak walikota yang dinilai sangat tanggap mengayomi warganya. apresiasi, pak Firdaus kami merasa diayomi, terima kasih matur sembah nuwun.

Ucapan terima kasih disampaikan juga kepad Dinas Kesehatan, BBPOM, lembaga DPRD kota serta semua pihak terkait yang dengan cepat dalam menanggapi bakso mekar sehingga tidak berkepanjangan segingga berakibat kerugian yang semakin besar. Dalam temu sedulur juga disepakati akan terus dilakukan sosialisasi dan pemberdayaan kepada seluruh pedagang bakso. Juga diagendakan pertemuan besar pedagang bakso akan di kemas menjadi iven yang menarik yaitu festival kuliner bakso. Program kerja ini diharapkan akan mengembalikan kenyamanan penikmat dan penjual bakso. ***

H. Bagus Santoso adalah Ketum Paguyuban Masyarakat Solo Riau ( PAMOR), yang juga Anggota DPRD Provinsi Riau.


Daerah

Ekonomi

Pendidikan

Hukum

Olahraga

Politik

Selasa 31 Oktober 2017

Pemkab Siak Akan Bantu 12 Parpol Peseta Pemilu

Siak (riauoke.com) Pemerintah Kabupaten Siak akan memberikan bantuan keuangan kepada 12 partai politik peserta pemilu...