Jumat, 05 Maret 2021

Chevron Geology Fieldtrip (I), Ketika Belajar tentang Bebatuan Terasa Begitu Menarik

Pekanbaru (riauoke.com) Sekarang, sepertinya perjalanan Riau-Sumatera Barat akan berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Kalau dulu saya hanya terkagum-kagum saja
melihat dinding-dinding batu di sepanjang jalan yang dilalui, kini saya seolah ditarik oleh suatu magnet ke masa yang sangat purba, ketika dinosaurus belum lagi ada, ketika puncak-puncak gunung di deretan pegunungan Bukit Barisan masih berada di dasar samudera, dan ketika aneka fauna laut masih berenang-renang leluasa.

 

Ketika itulah, lapisan demi lapisan kerak bumi terbentuk, lalu mengumpul dan berubah
menjadi berbagai jenis mineral dan akhirnya kini dapat kita nikmati untuk kemudahan dan kenyamanan hidup kita. Singkatnya, masa ketika bumi bersiap untuk menyambut kedatangan manusia. Ma sya Allah...



Perjalanan ke masa-masa awal terbentuknya bumi ini, diinisiasi oleh PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) untuk sejumlah jurnalis di Riau. Ada 25 orang yang mengikuti acara ini, terdiri dari 14 jurnalis, tim dari Chevron dan SKK Migas. Perjalanan berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad (6-8/12/19) dengan antusiasme tinggi para peserta.

 

Jadwal dari pagi hingga malam hari cukup padat, karena kami mengunjungi cukup banyak titik untuk melihat dan mempelajari singkapan-singkapan berbagai bentuk lapisan batuan.

 

Sonitha Poernomo selaku Manager Corporate Communicatio PT CPI mengatakan, Geology fieldtrip ini dilaksanakan di Sumbar, karena struktur bebatuan dan lapisan tanah di Riau sama dengan di Sumbar.

Hanya saja, di Riau berada di dalam tanah. Sedangkan di Sumbar karena ada proses pelipatan lapisan daratan, maka lapisan tanah di Sumbar bergerak keluar. Sehingga memudahkan pengamatan dan dipelajari.


Mempelajari struktur bebatuan di Sumbar akan memudahkan pada geologist untuk memperkirakan struktur bebatuan di Riau.

Sejak dari Pekanbaru, pengetahuan tentang batu-batuan ini telah disampaikan dengan sangat menarik oleh Irdas Muswar, Team Manager AD South Optimization Minas, bahkan sebelum keberangkatan. Selanjutnya selama perjalanan Earth Scientist Chevron Agus Susianto lebih mendominasi pemaparan. Ia nyaris tiada henti diberondong pertanyaan para peserta fieldtrip ini.

Lewat penjelasannya, para peserta mengetahui bahwa ada beberapa jenis batuan dan tidak semua batu mengandung minyak. Dan anggapan banyak orang selama ini bahwa minyak bumi itu berada di dalam sebuah kawah atau kolam raksasa di dalam bumi, mulai diluruskan. Yang benar minyak itu ada di dalam pori-pori bebatuan. Namun tidak semua batu mengandung minyak.

 

Ada empat elemen yang menentukan ada tidak sebuah akumulasi hidrokarbon minyak dan gas di sebuah daerah atau sebuah cekungan sedimenter, yaitu (1) Charge (Pengisian) yang terdiri dari 3 sub elemen, yaitu Source Rock (batuan induk) yang kaya akan material organik dari sisa organisme hidup pada masa diendapkannya batuan itu. Umumnya diendapkan di lingkungan danau atau laut.

 

Maturation (pematangan) yang diperoleh dari panas yang berasal dari bawah permukaan lapisan sedimen di cekungan tersebut. Panas batuan akan meningkat seiring dengan kedalaman batuan.

 

Migration (migrasi) yaitu perpindahan minyak dan gas dari batuan induk ke reservoar hingga menuju ke posisi jebakannya.



2. Reservoir (reservoar),
yaitu batuan yang menjadi rumah bagi akumulasi hidrokarbon minyak dan gas. Batuan reservoir umumnya berupa sedimen batupasir dan batu gamping. Jenis batuan lain bisa juga menjadi reservoar, namun volumenya lebih kecil. Kunci penentu sebuah batuan bisa menjadi reservoir atau tidak yakni porositas batuan
tersebut.



3. Seal (batuan tudung/penutup). Untuk mencegah hidrokarbon minyak dan gas lolos ke permukaan karena sifatnya yang lebih ringan dari air, maka diperlukan tutup penahan. Batuan tudung umumnya terbentuk dari batuan sedimen berbutir halus seperti batu serpih (shale), atau batu lempung (clay) atau bisa juga lapisan garam (salt).



4. Trap (jebakan), yang diperlukan untuk menghentikan pergerakan migrasi minyak dan gas ke arah permukaan dan mengumpulkannya pada suatu tempat. Bentuk jebakan yang umum adalah antiklin seperti kubah, antiklin terpatahkan dan berbagai bentuk jebakan lainnya termasuk jebakan stratigrafis.

 

Singkatnya, bila batuan itu ternyata tidak berpori-pori, maka minyak tidak ada di dalamnya. Kalaupun bebatuan itu berpori dan mengandung minyak, namun antara satu pori dengan pori yang lain tidak terhubung, juga belum tentu bisa dieksplorasi.

 

Seterusnya, bila dua syarat itu terpenuhi, eksplorasi masih mempertimbangkan nilai ekonomisnya, karena investasi di bidang  minyak dan gas bumi ini sangatlah mahal. Bila
cadangan minyaknya tidak terlalu banyak, maka bisa jadi tidak akan ada perusahaan yang akan menyedotnya ke permukaan bumi.

 

Pasalnya, pengeboran minyak bumi adalah bisnis yang membutuhkan teknologi mutakhir, karena yang akan mereka ambil adalah minyak yang terperangkap di dalam pori-pori batu dengan jarak berkilometer di
bawah permukaan tanah.


"Seringkali, dalam 10 kali pengeboran, hanya satu titik yang mengandung minyak," terang Agus Susianto. "Sisanya hanya berisi air."

 

Hari pertama para peserta fieldtrip ini melihat Singkapan Formasi Petani yang berada di timur dan antiklin Bangkinang yang berumur Miocene hingga Pliocene. Disebut begitu karena itu masa berjarak jutaan tahun sebelum masa jurassic yang lebih familiar di telinga kita. Formasi ini berfungsi sebagai analogi dari formasi yang sama yang ada di bawah permukaan, juga berfungsi sebagai timbungan dan batuan tudung dari sistem hidrokarbon di Cekungan Sumatra Tengah.


Perhentian pertama fieldtrip ini adalah di pinggiran jalan lintas Sumatera di Kabupaten Kampar untuk melihat batuan yang disebut Telisa Formation. Formasi Telisa merupakan batuan induk yang potensial dengan kandungan kerogen. Minyak bumi dan gas terbentuk dari kerogen ini.

 

Lalu dilanjutkan ke batuan Greywacke di daerah Koto Panjang. Greywacke adalah berbagai batu pasir yang umumnya dicirikan oleh kekerasan, berwarna gelap, dan ciri lainnya. Diperkirakan, jenis batu yang sama juga terdapat di ladang minyak di Minas dan Duri, Riau.

 

Di sekitar Koto Panjang kami melihat singkapan Basemen Greywacke yang merupakan salah satu contoh singkapan basemen atau batuan dasar di Cekungan Sumatera Tengah yang berfungsi sebagai alat cekungan. Batuan ini berumur Karbon hingga
Permina. Berasal dari Gondwana Land, yakni dulu pada saat batuan terbentuk masih menyatu dengan Benua Australia. Batuan ini kemudian bergerak ke daerah Khatulistiwa pada umur Jurassic hingga Cretaous.

 

di Tanjung Balit kami dikenalkan dengan Singkapan Batuan Grup Sihapas yang muncul ke permukaan. Grup Sihapas ini terdiri dari gabungan kelompok formasi batuan sedimen yang diendapkan pada umur Awal Miocene di lingkungan laut dangkal yang didominasi oleh lapisan lapisan batu pasir kuarsa berukuran halus hingga kasar.


Perjalanan diteruskan  ke Harau. Itu adalah perhentian terakhir di hari pertama trip. Tebing-tebingnya tinggi menjulang vertikal di kiri kanan lembah, terlihat sangat menarik.



Di Lembah Harau jenis batuannya disebut Delta Kipas (fan delta) dengan susunan batuan yang disebut Formasi Brani. Singkapan di Lembah Haru terdiri dari Formasi Brani yang diperkirakan diendapkan pada Umur Eocene. Formasi ini ditafsirkan sebagai unit batuan sedimen alluvial fan dan fan delta yang masuk ke dalam sebuah danau di Cekungan Payakumbuh hingga Ombilin. Singkapan ini diduga memilki kemiripan denga formasi Lower Red Bed yang berada di Cekungan Sumtera Tengah di Riau. Batu pasir dari formasi Brani mungkin bisa berfungsi sebagai reservoar. bersambung []fitri mayani


Selasa, 26 Mei 2020

Miliki Vokal Merdu, Laa Tahzan Rilis 8 Lagu Jadi Medley Raya

Miliki Vokal Merdu, Laa Tahzan Rilis 8 Lagu Jadi Medley Raya

Padang (riauoke.com)  Ikut mewarnai suasana Hari Raya Idul Fitri 1441 H, grup nasyid Laa Tahzan merilis Medley Raya pada  26 Mei 2020 di IslamicTunesCloud.Laa Tahzan berdiri pada tahun 2014, sempat...

Rabu, 05 Feb 2020

RA Kopi Aren, Wisata Baru Tepian Kota Pekanbaru di Palas Rumbai

RA Kopi Aren, Wisata Baru Tepian Kota Pekanbaru di Palas Rumbai

Pekanbaru, riauoke.com - Salah satu lokasi wisata baru telah hadir di Kota Pekanbaru Riau 'RA KOPI AREN' dan resmi beroperasi dibuka untuk umum oleh pemiliknya T. Rusli Ahmad SE, berlokasi...

Sabtu, 25 Jan 2020

Pesta Adat Penobatan Datuok Godang, Tambang, Diawali dengan Prosesi Basiacuong

Pesta Adat Penobatan Datuok Godang, Tambang, Diawali dengan Prosesi Basiacuong

Tambang, riauoke.com - Diawali dengan arakan oleh Bupati Kampar dan para Ninik mamak menuju balai Adat Terantang Tambang pengukuhan yang diawali dengan prosesi Basiacuong. Prosesi penobatan pucuk adat Kenegaraan Tambang- Terantang...

Jumat, 24 Jan 2020

Prosesi Potong Kerbau dan Pendirian Bendera Suku Jelang Pengukuhan Pucuk Adat dan Suku Tambang

Prosesi Potong Kerbau dan Pendirian Bendera Suku Jelang Pengukuhan Pucuk Adat dan Suku Tambang

Tambang, riauoke.com - Prosesi Pemotongan Kerbau dan Pendirian Bendera Suku menjelang pengukuhan Pucuk Adat dan Pucuk Suku Kenegerian Tambang - Terantang, Kecamatan Tambang - Kabupaten Kampar yang akan dilaksanakan pada...

Rabu, 08 Jan 2020

Bupati Alfedri Resmikan Destinasi Wisata Alam Berembang Selangat Indah

Bupati Alfedri Resmikan Destinasi Wisata Alam Berembang Selangat Indah

Siak, riauoke.com -Bupati Siak Alfedri meresmikan wisata alam Berembang Selangat Indah (BSI) yang terletak di Kampung Sri Gemilang, kecamatan Koto Gasib kabupaten Siak, selasa, 07/01/2020 petang.Peresmian itu di tandai dengan...

Sabtu, 21 Des 2019

Festival Gerhana Matahari Cincin digelar Pekan Depan di Siak, Ini Kegiatannya

Festival Gerhana Matahari Cincin digelar Pekan Depan di  Siak, Ini Kegiatannya

Siak, riauoke.com - Kampung Bunsur Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak telah ditetapkan oleh Pusat Sains Antariksa LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) bersama Kota Singkawang Kalimantan barat, menjadi lokasi kegiatan...

Selasa, 10 Des 2019

Chevron Geology Fieldtrip (2), Belajar Sejarah Terbentuknya Danau Singkarak

Chevron Geology Fieldtrip (2), Belajar Sejarah Terbentuknya Danau Singkarak

Pekanbaru (riauoke.com) Hari Kedua, rombongan bergerak dari Hotel Emersia Batusangkar menuju Sawahlunto. Gerimis mengiringi kepergian kami dari kota dengan Istano Basa Pagarruyungnya itu. Tentu rombongan tak melewatkan kesempatan untuk sejenak...

Senin, 09 Des 2019

Chevron Geology Fieldtrip (I), Ketika Belajar tentang Bebatuan Terasa Begitu Menarik

Chevron Geology Fieldtrip (I), Ketika Belajar tentang Bebatuan Terasa Begitu Menarik

Pekanbaru (riauoke.com) Sekarang, sepertinya perjalanan Riau-Sumatera Barat akan berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Kalau dulu saya hanya terkagum-kagum saja melihat dinding-dinding batu di sepanjang jalan yang dilalui, kini saya seolah ditarik...