Jumat, 05 Maret 2021

Chevron Geology Fieldtrip (2), Belajar Sejarah Terbentuknya Danau Singkarak

Pekanbaru (riauoke.com) Hari Kedua, rombongan bergerak dari Hotel Emersia Batusangkar menuju Sawahlunto. Gerimis mengiringi kepergian kami dari kota dengan Istano Basa Pagarruyungnya itu. Tentu rombongan tak melewatkan kesempatan untuk sejenak menikmati pesona istana itu dan mengabadikannya.



Hari masih pagi, basah dan dingin, saat rombongan meneruskan perjalanan ke Guguak Cino. Di sini, kami melihat jenis batuan basemen granite. Singkapan Basemen Granit Guguk Cina adalah salah satu contoh singkapan besemen batuan beku sebagai batuan dasar di cekungan Ombilin berumur Jurassic.



Pada kondisi lapuk atau pecah-pecah terekahkan, granit ini juga bisa berfungsi sebagai reservoar. Batuan ini merupakan intrusi batuan beku dari sebuah dapur magma yang menembus batuan di sebuah lempeng benua atau kontinen. Basemen granit juga terdapat di Cekungan Sumatera Tengah meski dengan sebaran yang tidak begitu luas.



Kami melihat ada garis-garis putih memanjang di permukaan batuan granit itu. Dijelaskan, itulah yang disebut dengan urat-urat kuarsa. Kemunculan urat-urat kuarsa ini menandakan bahwa di sana terdapat butiran emas.



Perjalanan diteruskan ke Lubuk Pinang. Di sana kami melihat jenis batuan Formasi Sangkarewang. Singkapan Formasi Sangkarewang adalah unit batuan sedimen yang berumur Eocene yang merupakan rekanan dari sedimentasi sebuah danau purba berumur Eocene di Cekungan Ombilin. Batuan ini terdiri dari perselangselingan batu pasir dan batu lempung hitam yang mengandung banyak material organik.




Formasi Sangkarewang ini memiliki potensi sebagai batuan sumber minyak dan gas bumi. Singkapan Formasi Sangkarewang yang diamati telah mengalami deformasi oleh struktur geologi yang bentuknya disebut sebagai Lipatan Chevron atau Chevron Fold berupa lipatan yang intensif membentuk seperti sebuah akordeon.


Sempat ada kejadian menarik saat rombongan kami turun dari mobil untuk mengamati singkapan yang kebetulan berada di tebing tepat di pinggir jalan.



Chevron mewajibkan setiap peserta mengenakan rompi oranye yang sangat menyolok, agar dari jauh kami sudah terlihat. Harapannya, tentu saja agar kami dapat terhindar dari insiden tabrakan.



Sekilas, rompi oranye ini mirip rompi para tahanan KPK, sampai ada yang minta difoto seperti itu. Namun ada juga yang melihat kami seperti tukang parkir. Parahnya, warga sekitar mengira sedang ada razia. Hehehe...


Setelah itu, perjalanan diteruskan ke Museum Lobang Tambang Mbah Soero di Kota Sawahlunto. Di sini kami juga dijelaskan tentang proses terjadinya batu bara.



Tak lupa, kami juga melihat sejumlah foto dan benda-benda bersejarah.  Benda itu berupa rantai dan borgol untuk para tahanan yang juga menjadi pekerja tambang. Ada pula sejumlah foto yang memperlihatkan bagaimana situasi di Sawahlunto hampir seratus tahun yang lalu.

 

 

Juga ada surat kabar tempo doeloe, yang menceritakan perkelahian berdarah antara Bangsa Madura dengan Bangsa Bugis. Dengan ejaan yang belum lagi disempurnakan, kita di hari ini akan sedikit kesulitan untuk membaca berita itu. Bagi kita hari ini, terasa aneh dengan sebutan bangsa itu. Namun sejatinya, dulunya memang kita belumlah bersatu menjadi Indonesia.



Destinasi terakhir hari kedua adalah Danau Singkarak. Untuk melihat danau itu dengan jelas dari ujung ke ujung yang panjangnya sekitar 30 kilometer, kami naik ke Puncak Gobah atau Puncak Aripan.


Danau Singkarak adalah depresi atau cekungan yang terbentuk oleh Sesar Geser Besar Sumatera yang diperkirakan terbentuk pada umur 1 juta hingga 2 juta tahun lalu. Bahasa sederhananya, danau itu terbentuk saat dua lempeng itu bergerak saling menjauh, sehingga muncul jarak berupa cekungan di antara keduanya yang kelak menjadi Danau Singkarak. Hingga hari ini, sesar ini terus bergerak saling menjauh.



"Bila di bawah danau ini terdapat koneksi ke laut, maka bisa jadi air danau akan tersedot hingga kering. Tapi itu mungkin akan memakan waktu ribuan tahun, wallahu'alam," jelas  Agus Susianto lagi.



Kedalaman air danau ini secara umum sekitar 200 meter dengan dimensi lebar sekitar 10 kilometer dan panjang 30 kilometer.  Pengamatan danau ini ditujukan untuk mempelajari analogi modern dari sistem danau purba yang dulu pernah ada di Cekungan Sumatera tengah maupun Ombilin pada umur Eocene hingga Oligocene.


Sesekali, kita  membaca berita tentang matinya ribuan ekor ikan di danau itu. Bahkan ada yang mengatakannya sebagai siklus tiga tahunan. Menurut para ahli, itu terjadi akibat lepasnya gas metan dari dalam perut bumi lalu menyebar ke dalam air sehingga membuat ikan-ikan stres lalu mati. Proses destratifikasi terjadi dalam Danau Singkarak karena perbedaan  suhu secara alamiah karena perbedaan kedalaman air, terutama terjadi pada musim panas.


Hari ketiga atau terakhir, kami berkunjung ke Ngarai Sianok, melihat endapan Maninjau Tephra. Kami mengamati singkapan endapan erupsi volkanik muda Gunung Maninjau di ngarai itu. Endapan sedimen piroklastik (sedimen jatuhan) tuf dan lapili dari Gunung Maninjau diperkirakan terjadi sekitar umur Pleistosene hingga Holocene.


Unit sedimen ini sering disebut sebagai Maninjua Tephra. Dari kenampakan tebalnya, lapisan ini mengindikasikan bahwa dahulu terjadi erupsi volkanis yang intensif dan berulang.



Di tempat ini, kami bertemu dengan seorang pria yang ternyata cukup paham dengan ilmu geologi. Sehingga saat saya bertanya, apa yang dilakukannya dengan menyusun beberapa batu di dalam sungai kecil di depan cottage-nya, ia menjawab, "Saya sedang melakukan proses geologi kecil."



Rupanya ia cukup paham dengan apa yang dilakukannya. Ia mengerti, bila aliran sungai membelok ke arah kiri, maka tebing yang akan digerus adalah di bagian kanan. Dan sebaliknya. Dan ia sedang mencoba menahan proses penggerusan itu terjadi di arah cottage dengan cara menahan laju air dengan membuat aral berupa susunan batu-batu kali di tempat-tempat tertentu.



Sebentar saja, pria itu sudah berbincang akrab dengan tim geologist Chevron.



Sungguh tiga hari yang berkesan. Banyak yang menyesal, mengapa sangat terlambat mengetahui tentang ilmu ini. Ternyata ilmu geologi itu bisa sangat menarik  untuk dibahas. Melalui perjalanan yang penuh suasana keakraban ini, peserta yang rata-rata sangat awam dengan ilmu batu, kini jadi mengerti, bahwa butuh ribuan bahkan jutaan tahun untuk menjadikan bumi ini layak kita huni seperti hari ini. Bahwa apa yang terlihat di permukaan hari ini, bisa jadi sangat berbeda keadaannya jutaan tahun yang lalu. -[]fitri mayani

Selasa, 26 Mei 2020

Miliki Vokal Merdu, Laa Tahzan Rilis 8 Lagu Jadi Medley Raya

Miliki Vokal Merdu, Laa Tahzan Rilis 8 Lagu Jadi Medley Raya

Padang (riauoke.com)  Ikut mewarnai suasana Hari Raya Idul Fitri 1441 H, grup nasyid Laa Tahzan merilis Medley Raya pada  26 Mei 2020 di IslamicTunesCloud.Laa Tahzan berdiri pada tahun 2014, sempat...

Rabu, 05 Feb 2020

RA Kopi Aren, Wisata Baru Tepian Kota Pekanbaru di Palas Rumbai

RA Kopi Aren, Wisata Baru Tepian Kota Pekanbaru di Palas Rumbai

Pekanbaru, riauoke.com - Salah satu lokasi wisata baru telah hadir di Kota Pekanbaru Riau 'RA KOPI AREN' dan resmi beroperasi dibuka untuk umum oleh pemiliknya T. Rusli Ahmad SE, berlokasi...

Sabtu, 25 Jan 2020

Pesta Adat Penobatan Datuok Godang, Tambang, Diawali dengan Prosesi Basiacuong

Pesta Adat Penobatan Datuok Godang, Tambang, Diawali dengan Prosesi Basiacuong

Tambang, riauoke.com - Diawali dengan arakan oleh Bupati Kampar dan para Ninik mamak menuju balai Adat Terantang Tambang pengukuhan yang diawali dengan prosesi Basiacuong. Prosesi penobatan pucuk adat Kenegaraan Tambang- Terantang...

Jumat, 24 Jan 2020

Prosesi Potong Kerbau dan Pendirian Bendera Suku Jelang Pengukuhan Pucuk Adat dan Suku Tambang

Prosesi Potong Kerbau dan Pendirian Bendera Suku Jelang Pengukuhan Pucuk Adat dan Suku Tambang

Tambang, riauoke.com - Prosesi Pemotongan Kerbau dan Pendirian Bendera Suku menjelang pengukuhan Pucuk Adat dan Pucuk Suku Kenegerian Tambang - Terantang, Kecamatan Tambang - Kabupaten Kampar yang akan dilaksanakan pada...

Rabu, 08 Jan 2020

Bupati Alfedri Resmikan Destinasi Wisata Alam Berembang Selangat Indah

Bupati Alfedri Resmikan Destinasi Wisata Alam Berembang Selangat Indah

Siak, riauoke.com -Bupati Siak Alfedri meresmikan wisata alam Berembang Selangat Indah (BSI) yang terletak di Kampung Sri Gemilang, kecamatan Koto Gasib kabupaten Siak, selasa, 07/01/2020 petang.Peresmian itu di tandai dengan...

Sabtu, 21 Des 2019

Festival Gerhana Matahari Cincin digelar Pekan Depan di Siak, Ini Kegiatannya

Festival Gerhana Matahari Cincin digelar Pekan Depan di  Siak, Ini Kegiatannya

Siak, riauoke.com - Kampung Bunsur Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak telah ditetapkan oleh Pusat Sains Antariksa LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) bersama Kota Singkawang Kalimantan barat, menjadi lokasi kegiatan...

Selasa, 10 Des 2019

Chevron Geology Fieldtrip (2), Belajar Sejarah Terbentuknya Danau Singkarak

Chevron Geology Fieldtrip (2), Belajar Sejarah Terbentuknya Danau Singkarak

Pekanbaru (riauoke.com) Hari Kedua, rombongan bergerak dari Hotel Emersia Batusangkar menuju Sawahlunto. Gerimis mengiringi kepergian kami dari kota dengan Istano Basa Pagarruyungnya itu. Tentu rombongan tak melewatkan kesempatan untuk sejenak...

Senin, 09 Des 2019

Chevron Geology Fieldtrip (I), Ketika Belajar tentang Bebatuan Terasa Begitu Menarik

Chevron Geology Fieldtrip (I), Ketika Belajar tentang Bebatuan Terasa Begitu Menarik

Pekanbaru (riauoke.com) Sekarang, sepertinya perjalanan Riau-Sumatera Barat akan berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Kalau dulu saya hanya terkagum-kagum saja melihat dinding-dinding batu di sepanjang jalan yang dilalui, kini saya seolah ditarik...