Sabtu, 25 November 2017

Catatan Sutudy Wisata Kemenag Rohul, Istana Maimoon Bukti Kejayaan Islam Masa Lampau

Medan (riauoke.com) Salah satu obyek wisata yang dikunjungi oleh rombongan Kemenag Rohul ketika melakukan study wisata tanggal 17-20 April 2014 beberapa hari yang lalu adalah mengunjungi Istana Maimoon, sebuah monument dan catatan sejarah yang terus berbicara akan kejayaan Islam di masa lalu, khususnya di Sumatera Timur.



Kakan Kemenag Rohul Ahmad Supardi Hasibuan selaku Ketua rombongan menyatakan bahwa Kemegahan Istana Maimoon yang kita saksikan saat ini tidak lepas dari perjalanan sejarah Kesultanan Deli di Sumatra Timur.

Disebutkan dalam sejarah bahwa sekitar tahun 1612, Kerajaan Aceh mengutus seorang laksamana bernama Sri Paduka Sultan Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Khoja Bintan ke tanah Deli. Gocah Pahlawan berhasil mengambil alih kekuasaan Kerajaan Haru di Deli Tua pada 1630. Gocah Pahlawan kemudian menjadi penguasa di daerah taklukan itu mewakili penguasa Aceh hingga tahun 1653.

Pada 1669, Deli melepaskan diri dari Aceh yang semakin melemah akibat situasi politik internal yang menggerogoti kekuasaan raja. Tak banyak catatan sejarah yang membicarakan periode awal pisahnya Kerajaan Deli dari Kerajaan Aceh.

Namun, menurut sejarah, pada tahun 1854, Deli kembali ditaklukkan oleh Aceh dan Osman Perkasa Alam diangkat sebagai Sultan. Kedudukan Sultan Osman digantikan oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam yang memerintah pada tahun 1861-1873.

Kegemilangan Kesultanan Deli mencapai puncaknya ketika dipimpin oleh putra sulung Sultan Mahmud Perkasa Alam, yaitu Sultan Makmun al-Rashid Perkasa Alam (1873-1924). Pada masa beliaulah pembangunan berbagai sarana pemerintahan berjalan pesat, termasuk pembangunan Istana Maimoon.
Mitos di seputar Istana
Sebagaimana istana pada umumnya, istana Maimoon juga tidak pernah lepas dari cerita-cerita tentang kekuatan gaib. Di Istana Maimoon, ada cerita tentang Putri Hijau; di Mataram, ada cerita tentang Ratu Laut Selatan; dan sebagainya. Pelajaran penting dari mitos-mitos itu tidak terletak pada benar atau tidaknya cerita tersebut, tetapi bagaimana ia bekerja di tengah masyarakatnya.

Keberadaan mitos sangat penting, terutama untuk menjaga keharmonisan hidup karena mitos sarat dengan nilai-nilai yang mencegah masyarakat melakukan pelanggaran-pelanggaran sosial. Mitos tentang Putri Hijau di Istana Maimoon berkaitan dengan meriam buntung yang diletakkan di sisi kanan depan istana, di dalam sebuah bangunan atau rumah Batak Karo. Dari cerita ini, tergambar bagaimana pasang surut hubungan antara Kerajaan Deli dan Aceh yang diwarnai dengan penaklukan dan perdamaian.

Alkisah, dahulu di Kesultanan Deli Lama, sekitar 10 kilometer dari Medan, hidup seorang putri cantik bernama Putri Hijau. Kecantikan sang putri terdengar oleh Sultan Aceh. Sang sultan pun jatuh hati dan melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang Yazid dan Mambang Khayali.

Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh. Kemudian, terjadilah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Konon, saat perang itu salah satu saudara Putri Hijau, yaitu Mambang Yazid menjelma sebagai ular naga dan Mambang Khayali menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh.

Karena terus-menerus menembaki pasukan Aceh, meriam itu pecah menjadi tiga keping. Pecahan-pecahan meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, Desa Sukanalu (Tanah Karo), dan Deli Tua (Deli Serdang).

Begitu populernya cerita di atas, hingga nama Istana Maimoon juga dikenal dengan nama Istana Putri Hijau. Dan, meriam puntung hingga kini dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.

Bukti Kejayaan Islam

Istana Maimoon yang berdiri dengan megahnya di tengah Kota Medan, disertai dengan Masjid Raya yang tak kalah megahnya dengan istana Maimoon, menunjukkan bahwa umat Islam pada masa lalu sangat maju,  baik dari sisi pemerintahan maupun dari sisi arsitekturnya. Arsitekturnya sangat indah, perpaduan antara gaya Timur Tengah, India dan bahkan Eropa.

Kemegahan dan kemajuan umat islam masa lalu ini, tidak lepas dari semangat jihad yang menyelimuti seluruh umat, baik yang berada dalam pemerintahan maupun yang di luar pemerintahan ataupun masyarakatnya. Kedua komponen ini, harus bersatu padu, sehingga dapat menghasilkan energy positif yang bersifat dinamis.

Untuk itu, maka umat islam di mana sajapun berada, hendaknya mencontoh dan meneladani sifat-sifat para pendahulunya ini, sebab salah satu yang hilang dari umat islam saat ini adalah semangat jihad dan keteladanan. Jika semangat jihad melemah, ditambah lagi dengan tokoh yang dapat diteladani tidak ada, maka sebuah negeri dipastikan akan hancur.

Jika umat ini ingin maju kembali sebagaimana maju dan jayanya umat Islam pada masa lalu, baik di belahan Timur maupun di belahan Barat seperti Spanyol masa lalu (Cordoba), maka semangat jihad, introspeksi diri, belajar ke masa lalu, dan mengantisipasi masa depan harus ditanamkan kembali kepada setiap umat.[]ril.ibn

Daerah

Ekonomi

Pendidikan

Hukum

Olahraga

Politik

Selasa 31 Oktober 2017

Pemkab Siak Akan Bantu 12 Parpol Peseta Pemilu

Siak (riauoke.com) Pemerintah Kabupaten Siak akan memberikan bantuan keuangan kepada 12 partai politik peserta pemilu...