Hasilnya, ternyata konten materi penyuluhan yang ada selama ini, masih belum ideal, baik untuk konten penyuluhan dalam format teks, grafis, maupun video. Ini terjadi pada konten tentang jenis ikan; manajemen budidaya ikan; ukuran media (panjang teks, ukuran grafis, dan durasi video); dan sifat materi penyuluhan yang ditampilkan di website tersebut. Akibatnya, materi penyuluhan perikanan air tawar di website tersebut, secara keseluruhan, kurang bermanfaat bagi pembudidaya ikan di Riau. “Konten penyuluhan siber itu baru dapat memperbaiki pengetahuan pengetahuan dan sikap pembudidaya ikan, namun tidak mampu meningkatkan keterampilan (skill) mereka,†kata Ridar Hendri, yang juga Penasehat PWI Riau itu.
Karena itu, katanya, formulasi konten materi penyuluhan siber perikanan tersebut perlu dirubah. Dia menemukan model konten materi penyuluhan yang ideal, yakni: (a) harus banyak menyajikan tentang jenis ikan patin dan mujair;  (b) membahas tentang pakan ikan dan kualitas air, (c) bersifat penyelesaian masalah; dan (d) dikemas dalam bentuk video, berdurasi 4,5 – 9 menit, dan diperbaharui (updated) empat kali sebulan. “Sebelumnya, materi yang disajikan sebelumnya, belum ,†pungkasnya. []Hkm