×
HOME / Ekonomi
Dengan Salak Bali, Indonesia Raih Penghargaan Sistem Warisan Pertanian Penting Global Pertama dari FAO
Senin, 3 November 2025 | 06:58:55 WIB
Editor : admin | Penulis : admin

Jakarta,  riauoke.com– Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) hari ini secara resmi menganugerahkan sertifikat Sistem Warisan Pertanian Penting Global (Globally Important Agricultural Heritage Systems/GIAHS) pertama bagi Indonesia dalam seremoni di Kantor Pusat FAO, Roma, Italia. Pada GIAHS Award Ceremony 2025, sistem agroforestri salak di Karangasem, Bali, ditetapkan sebagai salah satu dari 28 sistem warisan pertanian baru dari 14 negara.

Di bawah program unggulan FAO ini, terdapat 102 situs di seluruh dunia yang diakui karena kontribusinya dalam menjaga ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat, keanekaragaman hayati pertanian, pengetahuan tradisional dan praktik berkelanjutan, nilai sosial-budaya, serta lanskap yang unik. Sistem Agroforestri Salak Karangasem, yang ditetapkan sebagai situs GIAHS pada September 2024, mencerminkan perpaduan antara falsafah lokal, kearifan ekologis, serta pengelolaan berbasis komunitas dalam mendukung ketahanan pangan, penghidupan berkelanjutan, dan pelestarian ekosistem.

Pada seremoni tersebut, Deputi Direktur-Jenderal FAO, Godfrey Magwenzi, menyerahkan sertifikat kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian RI, Muhammad Taufiq Ratule, didampingi Sekretaris Desa Adat Sibetan, I Made Mastiawan.

“Pengakuan ini merupakan tonggak bersejarah bagi Indonesia,” ujar Muhammad Taufiq Ratule. “Sistem Agroforestri Salak Karangasem adalah hasil kerja bersama petani, lembaga desa adat, akademisi, pemerintah daerah dan pusat, serta FAO. Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga dan mengembangkan lanskap warisan pertanian ini agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat ketahanan sistem pangan, serta menjadi ruang pembelajaran bagi pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Kami menyambut kolaborasi internasional, berbagi pengetahuan, serta dukungan teknis untuk memperkuat GIAHS di Indonesia dan mendorong penetapan situs GIAHS lainnya di masa mendatang.”

Kabupaten Karangasem merupakan sentra produksi salak terbesar di Bali dengan produksi 24.972 ton pada tahun 2024. Sistem ini melibatkan sekitar 2.800 petani di Desa Adat Sibetan yang menjaga lebih dari 12 varietas lokal salak. Aturan adat setempat (awig-awig) melindungi lahan pertanian dari alih fungsi serta membatasi penjualan lahan kepada pihak luar, memastikan keberlanjutan sistem agroforestri selama turun-temurun.

Sekretaris Daerah Karangasem, I Ketut Sedana Merta, menyampaikan bahwa pengakuan global ini merupakan penghormatan atas pengetahuan leluhur dan pengelolaan lahan yang telah menjaga keanekaragaman hayati dan keberlanjutan lingkungan selama berabad-abad.

“Di tengah tantangan alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda dalam bertani, serta perubahan iklim, pengakuan GIAHS ini menjadi dorongan untuk terus berinvestasi pada petani dan praktik berkelanjutan mereka,” ujarnya.

“Kami berharap pengakuan ini meningkatkan perhatian global terhadap sistem agroforestri salak, membuka peluang kolaborasi internasional, memperkuat kemitraan publik-swasta-komunitas dalam agrowisata, pengembangan produk turunan, riset pertanian, dan konservasi keanekaragaman hayati, serta menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pangan dan pertanian.”

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menegaskan pentingnya GIAHS sebagai model ketahanan iklim dan transformasi sistem pangan.

“Dengan dukungan yang tepat, GIAHS dapat berkembang dari inisiatif konservasi menjadi model sistem pangan yang tangguh terhadap perubahan iklim,” ujar Aryal.

“Komunitas di berbagai wilayah Indonesia memiliki sistem pertanian tradisional berharga yang dapat menjadi solusi adaptasi iklim. FAO siap mendukung Indonesia menjaga situs GIAHS pertamanya dan mendorong penetapan situs-situs berikutnya.”

Indonesia bergabung dengan Brazil, Tiongkok, Ekuador, Iran, Italia, Jepang, Korea, Meksiko, Maroko, Spanyol, Thailand, dan Tunisia dalam menerima penghargaan GIAHS tahun ini. Selain mempromosikan komoditas unggulan, kegiatan ini menjadi ajang pertukaran pengetahuan tradisional, praktik ekologis, dan budaya antarnegara.[]rls


Pilihan Editor
Berita Lainnya
internasional
Penjaga Perdamaian Indonesia yang Gugur Dikenang UNIFIL di Beirut
Senin, 27 April 2026 | 21:47:00 WIB
Ekonomi
Gambar Artikel
PGN Raih Silver Asia Pacific Stevie Awards 2026
Selasa, 21 April 2026 | 20:02:00 WIB
Nasional
Internasional
Travelling
Daerah