×
HOME / Opini
Komentar Netizen dan Etika Komunikasi di Ruang Digital
Jumat, 28 November 2025 | 15:05:27 WIB
Editor : admin | Penulis : admin


Disinhibition Effect dan Anonimitas

Fenomena kritik buruk di platform media sosial tidak bisa dipisahkan dari ide online disinhibition effect yang diungkapkan oleh john suler padan tahun 2004. Teori ini menyatakan bahwa individu lebih suka untuk mengekspresikan pendapat mereka dengan lebih leluasa fdan tanpa batasan dalam dunia maya dibandingkan saat berinteraksi secara langsung. Ketika orang-orang berada di belakang layar, mereka merasakan adanya jarak psikologis yang memberi mereka keberanian untuk menulis komentar memikirkan konsekuensinya.


Anonimitas merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya efek disinhibisi. Banyak orang merasa terlindungi karena identitas mereka tidak sepenuhnya diketahui oleh orang lain. Situasi ini menyebabkan norma-norma moral  menjadi tidak jelas dan perilaku kasar lebih mudah diterima. Di samping itu, kurangnya interaksi fisik dengan orang yang diajak bicara membuat pengguna tidak merasakan reaksi emosional dari mereka yang dikomentari. Ketidakhadiran tanggapan langsung tersubut  mengurangi rasa empati dan membuat pengguna tidak menyadari seberapa besar dampak dari komentar yang mereka buat.


Komunikasi digital yang bersifat tidak langsung juga memperkuat fenomena ini. Pengguna bisa menuliskan komentar kapan saja tanpa perlu melihat atau membalas secara segera. Keterlambatan dalam memberikan respons membuat pengguna merasa tidak bertanggung jawab atas dampak dari ucapannya. Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak orang yang sebernarnya ramah dan tenang dalam interaksi langsung bisa tampak lebih kasar atau sinis ketika berada di dunia digital. Fenomena ini memperlihatkan bahwa perilaku dan sifat seseorang bisa berubah secara signnifikan saat mereka merasa aman  karena anonimitas dan jarak emosional.

Baca :


Membangun Budaya Komentar yang Sehat

Untuk membangun lingkungan digital yang positif, diperlukan kontribusi bersama dari semua pengguna media sosial, lembaga pendidikan, pemerintah, serta penyedia platform digital. Akan tetapi, perubahan yang signifikan harus diawali oleh masing-masing individu sebagai pengguna yang aktif dalam ruang digital. Menyadari pentingnya berpikir sebelum memberikan komentar adalah tindakan sederhana tetapi sangat penting. Pengguna harus memikirkan apakah komentar yang mereka buat bisa berguna, menyakiti orang lain, atau hanya merupakan luapan emosi pribadi. Renungan kecil ini bisa mencegah banyak pertikaian di ruang digital.


Selain itu, penting untuk menghargai variasi pendapat, karena media sosial merupakan platform yang dihuni oleh orang-orang dengan latar belakang dan pandangan yang berbeda. Memahami bahwa tidak semua pandangan perlu dijawab dengan emosi dapat membantu menciptakan suasana diskusi yang lebih baik. Peningkatan pemahaman tentang literasi digital juga sangat krusial dalam membangun norma berkomentar yang baik. Masyarakat harus diperlengkapi dengan keterampilan untuk memverifikasi fakta, memahami komunikasi digital, serta menyadari pengaruh psikologis dari interaksi di dunia maya. Inisiatif literasi digital seperti Gerakan Nasional Literasi Digital yang diinisiasi oleh kementerian kominfo merupakan salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas interaksi masyarakat indonesia di ranah digital.


Pilihan Editor
Berita Lainnya
rohul
Warga Ujung Batu Tagih Janji Pemerintah Rokan Hulu 
Sabtu, 18 April 2026 | 10:02:00 WIB
Ekonomi
Nasional
Internasional
Gambar Artikel
Komandan PMPP TNI kunjungi korban luka di Lebanon 
Minggu, 5 April 2026 | 13:05:00 WIB
Travelling
Daerah
Gambar Artikel
Warga Ujung Batu Tagih Janji Pemerintah Rokan...
Sabtu, 18 April 2026 | 10:02:00 WIB