Dampak positif dari strategi ini sangat terasa pada sektor okupansi penginapan dan kuliner. Selama masa libur dan penyelenggaraan event olahraga, hotel-hotel serta restoran di berbagai kota besar di Malaysia dilaporkan penuh oleh pengunjung. Puluhan ribu warga asing memadati destinasi wisata, yang memberikan dampak ekonomi langsung bagi para pelaku usaha lokal di negeri jiran tersebut.
Selain pengalaman bertanding, para wisatawan juga dimanjakan dengan kemudahan mendapatkan peralatan olahraga. Malaysia dikenal menjual perlengkapan tenis dan alat olahraga lainnya dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan negara lain. Hal ini menjadikan kunjungan ke Malaysia terasa lengkap; para wisatawan pulang tidak hanya membawa pengalaman bertanding, tetapi juga perlengkapan baru dengan harga bersaing.
Secara lebih luas, inisiatif ini berhasil mempererat hubungan silaturahmi antarnegara di kawasan ASEAN. Melalui olahraga tenis, interaksi antarwarga negara tetangga terjaga dengan baik dalam suasana yang positif dan sehat. Malaysia telah berhasil membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi jembatan yang efektif untuk memajukan ekonomi sekaligus memperkuat persaudaraan di kawasan Asia Tenggara.
Tokoh tenis senior Riau, Rizal Fauzi, yang kini telah memasuki usia 70 tahun lebih, mengakui daya tarik tersebut. "Kita sering diundang ke sana untuk main tenis sekaligus berwisata," ujarnya. Senada dengan itu, Prof. Yusni Ikhwan Siregar, MSc, yang di usia 68 tahun masih menjadi "maniak" tenis, tercatat sudah beberapa kali mengikuti event serupa di Malaysia. Terakhir, ia bertanding membawa nama Bina Pratama Club Pekanbaru dalam laga persahabatan dengan DH Tenis Club Selangor. []hk
Foto. Team Victory Pelti Riau, Nur Azmi berpose di Tun Razak National Tennis Centre KL (foto/dok Taman)