oleh: Hanika
Perilaku keuangan Gen Z di Indonesia ditandai dengan tingginya gaya hidup konsumtif, minimnya literasi keuangan, dan ketergantungan pada teknologi digital. Saat ini banyak Gen Z yang kesulitan untuk menabung dan rentan terhadap utang, dimana 62% gaji yang mereka terima berpotensi habis untuk gaya hidup. Meskipun sadar akan pentingnya investasi dan dana darurat, namun realisasinya masih rendah.Â
Generasi Z menurut Alvara Research Center adalah kelompok usia yang tahun kelahirannya dimulai pada tahun 1995 hingga 2010. Menurut Badan Pusat Statistika (BPS) (2021) bahwa populasi Gen-Z di Indonesia mencapai 27,94 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Gen-Z dinilai sebagai generasi yang konsumtif melakukan pengeluaran untuk internet dan makan dibandingkan dengan menabung ataupun berinvestasi.
Perilaku konsumtif yang terjadi pada seseorang terjadi karena kurangnya tanggung jawab seseorang dalam keuangan yang dipicu oleh terbatasnya pemahaman seseorang mengenai perilaku keuangan. Seseorang dengan tingkat pendapatan yang cukup tidak menjamin bahwa akan terhindar dari masalah keuangan. Cukup banyak Individu pada Gen- Z yang saat ini masuk kedalam dunia usaha dengan tanpa memperhatikan risiko yang dihadapi dan tidak memiliki tanggung jawab mengenai pengelolaan keuangan yang tepat.Â
Berdasarkan data yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang OJK laksanakan pada tahun 2019 bahwa indeks literasi keuangan Indonesia sebesar angka 38,03% dan indeks inklusi keuangan memiliki angka 76,19%. Angka tersebut menunjukan financial literacy di Indonesia tergolong rendah. Perilaku keuangan yang salah dapat memicu terjadinya masalah keuangan dan perilaku keuangan. Perilaku mereka terkait dengan pengelolaan keuangan dan membuat keputusan keuangan. Perilaku keuangan mempengaruhi keputusan yang diambil seperti pengeluaran dan tabungan untuk masa depan. Misalnya, seseorang yang peduli dengan masa depannya memiliki kecenderungan yang berbeda dalam membelanjakan dan menabung dibandingkan dengan individu yang kurang peduli dengan masa depan keuangannya.
Sikap keuangan seseorang akan mempengaruhi bagaimana seseorang mengelola perilaku keuangannya. Ketidaksadaran seseorang terhadap pentingnya perilaku keuangan dalam mengelola keuangan dapat disebabkan oleh bebagai faktor. Literasi keuangan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya. Literasi keuangan sangat diperlukan dalam merencanakan keuangan dengan baik, salah satunya adalah pemilihan atau kepemilikan terhadap produk-produk keuangan. Perencanaan dan pengeluaran uang seperti pendapatan, tabungan, investasi, penggunaan kartu kredit, manajemen keuangan dan pembuatan keputusan keuangan terutama dalam membeli produk kebutuham individu.Â
Masalah keuangan utama yang dialami oleh Gen Z di Indonesia adalah gaya hidup konsumtif & FOMO akibat pengaruh media sosial dan influencer memicu keinginan membeli barang berdasarkan tren, bukan kebutuhan, yang sering didanai metode paylater. Gen Z (usia 19-34 tahun) juga tercatat sebagai penyumbang kredit macet pinjol tertinggi, dengan tingkat gagal bayar yang cukup tinggi. Kondis ini penyebabnya adalah banyak Gen Z yang belum paham cara melakukan budgeting, mengatur arus kas, dan pentingnya investasi, menyebabkan mereka sulit mencapai stabilitas finansial. Menurut hasil survey OJK sebagian besar Gen Z kesulitan menyisihkan uang, dengan hanya sedikit yang memiliki tabungan atau dana pensiun, membuat mereka rentan saat ada pengeluaran tak terduga. Selain itu biaya hidup tinggi sementara gaji yang diterima stagnan menyebabkan gen Z yang hidup di kota besar sering tidak sebanding dengan pendapatan, menyebabkan gaji sering habis sebelum akhir bulan. Kurangnya perencanaan keuangan yang matang membuat Gen Z sering terjebak dalam masalah finansial jangka panjang, termasuk sulit memiliki aset atau rumah.Â
Melihat kondisi ini maka penting sekali memberikan pemahaman dan meningkatkan literasi keuangan bagi kalangan Gen Z agar mereka terhindar dari masalah finansial. Dengan meningkatkan literasi keuangan kepada masyarakat dan bagi Gen ZÂ pada khusunyanya, diharapkan dapat mengurangi permasalahan masyarakat yang terlilit pinjaman online serta masyarakat dapat lebih mengerti dalam manajemen keuangan dan aset yang mereka miliki.[]
Penulis adalah Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana - Universitas Lancang Kuning