Ia menambahkan, setelah pembersihan makam selesai, masyarakat biasanya melanjutkan dengan tradisi religi pada sore harinya. "Sorenya ada acara melimau kuburan bersama keluarga, baik itu masyarakat lokal maupun warga dari desa tetangga di Kecamatan Bandar Seikijang," jelasnya.
Kepala Desa Simpang Beringin, Taharuddin Ibrahim, membenarkan bahwa kegiatan goro serentak ini adalah bentuk sinergi antara pemerintah desa dan warga. Ia mengaku bangga melihat masyarakat yang tetap kompak menjaga kebersihan makam keluarga mereka.
"Ini adalah tradisi turun-temurun dari datuk nenek kita terdahulu yang masih berjalan sampai sekarang. Menjelang masuk bulan puasa, masyarakat berbondong-bondong datang untuk goro dan melimau kubur keluarganya masing-masing," kata Taharuddin.
Lebih lanjut, Kades menekankan pentingnya menjaga warisan budaya ini agar tidak lekang oleh waktu.
"Budaya ini perlu kita lestarikan. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah tiada, goro ini juga mempererat tali silaturahmi antar warga Desa Simpang Beringin," pungkasnya.