
Di tengah kesenjangan gender dan berbagai tantangan yang ada, petani perempuan di Indonesia telah memimpin berbagai inisiatif lokal.
Istiqamah merupakan sekretaris koperasi kopi di Aceh, Indonesia. Ia mewakili 980 anggota yang secara kolektif mengelola lebih dari 1.200 hektar lahan kopi, sekaligus memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang banyak di antaranya adalah perempuan.
Sebagai pendukung kuat produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, koperasi ini mempromosikan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, khususnya bagi perempuan.
“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai tenaga pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi sangatlah krusial. Pendekatan ini sangat mungkin untuk direplikasi di wilayah lain dan dapat didorong melalui kebijakan pemerintah daerah guna menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Istiqamah.
“Petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara dalam tiga bidang utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang tepat. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, serta perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam lembaga pertanian. Selain itu, perempuan sangat membutuhkan dukungan dalam menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan demi menjaga produktivitas dan kesejahteraan kami,” tambahnya.
Sementara itu, Rulyantina merupakan seorang inovator pangan yang telah mengolah talas Beneng yang berasal dari Banten, Indonesia, menjadi berbagai produk bernilai tambah dengan konsep nol limbah (zero-waste) dan memiliki potensi pasar nasional maupun internasional. Inovasinya telah membantu memperluas diversifikasi pangan lokal beserta komersialisasinya, membangun sistem pangan yang tangguh terhadap iklim, serta menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, khususnya perempuan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).