
“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di lingkungan saya, untuk memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja. Dengan mengolah tanaman lokal, seperti talas Beneng, menjadi produk yang bernilai jual, kita dapat menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha di lingkungan kita sendiri. Hal ini memberikan kesempatan bagi perempuan untuk menjadi lebih mandiri secara finansial sekaligus mendukung keluarga mereka,” ujar Rulyantina.
Rulyantina berharap upayanya dapat menginspirasi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal mereka dengan memberikan akses pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar bagi para petani perempuan.
Ia menambahkan, “Pengalaman perempuan di lapangan harus dipertimbangkan saat merancang program agar benar-benar selaras dengan kebutuhan petani. Saya yakin, dengan akses, peluang, dan dukungan yang memadai, perempuan dapat mengembangkan usaha pertanian mereka secara lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga mereka, tetapi juga oleh masyarakat luas dan perekonomian daerah.”
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengapresiasi pengakuan FAO terhadap dua petani perempuan Indonesia, utamanya setelah melalui proses seleksi yang ketat dengan nominasi dari 131 negara.
“Pencapaian mereka menunjukkan bagaimana inovasi dan penambahan nilai dapat membuka potensi komoditas pertanian lokal. Kementerian Pertanian tetap berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat partisipasi perempuan dalam agribisnis, serta memperluas akses terhadap teknologi dan pasar guna memajukan pembangunan ekonomi perdesaan dan mewujudkan kemandirian pangan Indonesia,” ujar Suwandi.