oleh M Ridwan
Dalam beberapa tahun terakhir, prestasi olahraga Indonesia menunjukkan tren yang naik-turun. Di satu sisi, muncul talenta muda yang mampu mengharumkan nama bangsa di tingkat regional hingga global. Namun di sisi lain, sistem pembinaan, tata kelola kompetisi, dan ekosistem pendukung masih tertinggal dibanding negara pesaing di Asia. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar—dan menjadi alasan mengapa transformasi olahraga nasional harus dipercepat.
Performa atlet sebenarnya tidak berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari rangkaian panjang proses pembinaan, ketersediaan fasilitas, serta kepastian kompetisi yang sehat. Ketika klub, federasi, dan pemangku kebijakan tidak memiliki arah yang jelas, maka atlet yang menjadi korban pertama. Kita sering mendengar cerita minimnya pendanaan, jadwal kompetisi yang tidak konsisten, hingga polemik internal yang seharusnya tidak terjadi pada era olahraga modern.
Opini publik pun mulai berubah. Masyarakat tidak lagi hanya menuntut kemenangan, tetapi juga menuntut profesionalisme: transparansi federasi, pembinaan usia muda yang berkelanjutan, serta cara kerja yang bisa dipertanggungjawabkan. Olahraga bukan lagi sekadar kegiatan rekreasi atau tontonan, melainkan industri yang memberi kontribusi ekonomi besar bila dikelola secara serius.
Di level global, negara lain telah berlari cepat. Mereka membangun pusat pelatihan modern, memperkuat sport science, serta memastikan kompetisi berjalan sepanjang tahun. Ini adalah standar baru yang tidak bisa kita hindari lagi. Jika Indonesia ingin sejajar, maka keberanian mengambil langkah besar harus muncul sekarang—bukan nanti.
Dalam konteks ini, pemerintah, federasi, klub, hingga pelatih wajib berada pada visi yang sama: menjadikan olahraga sebagai industri profesional yang mandiri. Atlet perlu jaminan karier, program latihan yang terukur, dan akses ke teknologi pelatihan mutakhir. Tanpa itu semua, talenta sehebat apa pun akan sulit berkembang.