Oleh: Kurnia Pratiwi
Setiap pagi dan sore hari, sejumlah ruas jalan utama di Pekanbaru berubah menjadi lautan kendaraan. Di Panam, antrean panjang motor dan mobil membentang dari Simpang Garuda Sakti menuju Tabek Gadang. Begitu pula di kawasan Arengka dan sekitar Mal SKA, kemacetan seperti sudah menjadi bagian dari rutinitas warga kota. Situasi ini membuat perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam hitungan menit berubah menjadi puluhan menit. Pertumbuhan kota yang begitu cepat, sementara kapasitas infrastruktur jalan tidak banyak berubah, menjadi salah satu penyebab utama mengapa Pekanbaru kini semakin sesak dan sulit bergerak.
Sebagai ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru mengalami perkembangan pesat dalam dua dekade terakhir. Pertumbuhan permukiman baru, pusat perbelanjaan, kampus, kawasan kuliner, dan aktivitas bisnis menarik ribuan orang datang setiap hari. Namun, sistem transportasi kota belum berkembang secepat mobilitas masyarakatnya. Penduduk yang terus bertambah diiringi meningkatnya jumlah kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, membuat volume kendaraan jauh melampaui kapasitas jalan. Konsekuensinya adalah kemacetan yang kini nyaris tidak terhindarkan di banyak titik.
Perilaku masyarakat turut memperburuk situasi. Ketergantungan tinggi pada kendaraan pribadi membuat jalan-jalan dipenuhi motor dan mobil, bahkan untuk perjalanan pendek. Transportasi umum belum menjadi pilihan utama karena rute yang belum merata dan waktu tunggu yang tidak konsisten. Kebiasaan parkir di bahu jalan, berhenti mendadak, hingga penggunaan trotoar untuk melintas ketika macet semakin mempersempit ruang gerak lalu lintas. Tidak heran jika kemacetan menjadi semakin parah pada jam sibuk, ketika semua lapisan masyarakat memiliki kepentingan bergerak ke arah yang sama dalam waktu bersamaan.
Di beberapa titik, kemacetan sudah menjadi fenomena kronis. Soebrantas–Panam, misalnya, merupakan kawasan yang dipenuhi kampus, kos-kosan, kuliner, dan pusat usaha sehingga arus kendaraan padat sepanjang hari. Arengka dan Arengka 2 juga kerap mengalami kepadatan akibat aktivitas perdagangan dan putaran balik yang menyempitkan jalur. Ruas Sudirman menuju bandara macet pada pagi dan sore, sementara kawasan Simpang Garuda Sakti sering mengalami penumpukan kendaraan dari arah permukiman padat. Setiap titik memiliki karakter masalah berbeda yang memerlukan pendekatan penanganan tidak seragam.
Kemacetan membawa dampak serius bagi kehidupan masyarakat. Secara ekonomi, waktu yang terbuang di jalan berarti penurunan produktivitas dan peningkatan konsumsi bahan bakar. Pengeluaran masyarakat bertambah, sementara kualitas hidup menurun. Dari sisi lingkungan, kendaraan yang terjebak macet lebih lama menghasilkan emisi yang lebih tinggi. Polusi udara meningkat, mengancam kesehatan warga terutama mereka yang tinggal dekat ruas jalan besar. Secara psikologis, kemacetan juga memicu stres, kelelahan, dan rasa frustasi yang berdampak pada kesehatan mental.
Untuk mengatasi kemacetan, Pekanbaru memerlukan perubahan menyeluruh pada sistem transportasinya. Salah satu langkah utama adalah penguatan transportasi publik yang lebih nyaman, terjangkau, dan terintegrasi. Ketika transportasi umum mudah diakses dan bisa diandalkan, masyarakat akan lebih mungkin beralih dari kendaraan pribadi. Selain itu, penerapan teknologi seperti smart traffic light dan pemantauan arus kendaraan secara real-time dapat membantu mengurai kepadatan di beberapa titik rawan. Rekayasa lalu lintas melalui pengaturan satu arah, penataan simpang, dan penghapusan putaran balik yang menghambat arus juga perlu dipertimbangkan.
Penertiban parkir liar menjadi langkah penting lainnya. Banyak ruas jalan di Pekanbaru yang seharusnya mampu menampung arus kendaraan dengan baik justru macet karena badan jalan dipakai sebagai area parkir. Selain itu, desentralisasi pusat aktivitas kota dapat membantu mengurangi konsentrasi kendaraan pada wilayah tertentu. Jika fasilitas publik, ekonomi, dan hiburan tersebar lebih merata, maka masyarakat tidak harus selalu bergerak menuju titik-titik yang sama. Perubahan perilaku masyarakat, termasuk budaya tertib berlalu lintas dan kesediaan menggunakan transportasi umum, juga menjadi faktor kunci dalam jangka panjang.
Kemasetan Pekanbaru adalah persoalan kompleks yang tidak muncul dalam semalam dan tidak dapat diselesaikan dalam satu kebijakan. Namun, dengan keseriusan pemerintah, dukungan teknologi, perencanaan kota berbasis data, serta partisipasi masyarakat, masalah ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin ditangani. Kota yang maju bukan diukur dari jumlah kendaraan yang dimilikinya, tetapi dari bagaimana warganya dapat bergerak dengan mudah dan efisien. Pekanbaru memiliki peluang besar menjadi kota yang lebih tertata dan nyaman jika semua pihak berkomitmen melakukan perubahan menuju sistem transportasi yang lebih baik.
Â
Penulis adalah mahasiswa Psykologi UIN Suska Riau