
TEHERAN – Juru bicara markas Garda Revolusi Iran (IGRC) di Khatam al-Anbiya mengumumkan bahwa angkatan bersenjata Iran melakukan respons militer skala besar terhadap apa yang dia gambarkan sebagai "agresi brutal" yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran saat fajar pada hari Sabtu. Juru bicara itu juga mengungkapkan bahwa operasi tersebut mengakibatkan terbunuhnya ratusan tentara Amerika dan Israel.
Dilansir Aljazirah Arab, juru bicara tersebut mengatakan, dalam rekaman pernyataan yang disiarkan oleh media Iran, bahwa serangan yang menargetkan Iran mengungkapkan bahwa Washington dan Tel Aviv hanya memahami bahasa kekerasan. Terlebih agresi kedua negara tersebut menyebabkan korban sipil, termasuk anak-anak dan pelajar, yang dia gambarkan sebagai bukti baru dari kecenderungan brutal kedua belah pihak.
Dia menjelaskan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran merespons serangan itu dengan kecepatan tinggi dan akurasi tinggi. Ia mencatat bahwa respons tersebut termasuk menargetkan pusat-pusat vital, keamanan, dan militer penting di wilayah yang dikuasai Israel, selain melakukan apa yang dia gambarkan sebagai serangan "petir" yang menargetkan 14 pangkalan militer besar Amerika.
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa operasi ini mengakibatkan terbunuhnya ratusan “pasukan agresor Amerika dan Zionis,” dan menekankan bahwa tanggapan Iran dilakukan dalam kerangka apa yang ia gambarkan sebagai “tanggapan yang kuat dan tegas” terhadap agresi tersebut.
Dia memperingatkan, di akhir pidatonya, bahwa operasi militer Iran akan berlanjut lebih kuat dan ekstensif dibandingkan sebelumnya. Ia juga menekankan bahwa kepemimpinan militer akan terus menginformasikan kepada rakyat Iran tentang hasil dan perkembangan operasi ini secara berturut-turut, mengingat apa yang dia gambarkan sebagai konfrontasi berkelanjutan dengan Amerika Serikat. *
Sumber: Republika