
MADINAH (riauoke.com) Menikmati buka puasa atau iftar di Madinah merupakan pengalaman perdana bagi saya. Jauh berbeda dengan suasana di Pekanbaru, di Kota Suci ini saya merasakan nikmatnya berbuka bersama ribuan manusia dari berbagai belahan dunia.
Kami membaur dalam kesetaraan, tanpa memandang warna kulit, jabatan, maupun pangkat. Semua duduk bersila, menikmati hidangan yang sama di hamparan plastik yang disediakan para donatur.
Sekitar satu setengah jam sebelum azan Maghrib berkumandang, suasana Masjid Nabawi mulai sibuk. Para jamaah mengisi waktu dengan mengaji atau sekadar beristirahat. Namun, di balik itu, persiapan menjamu para musafir fi sabilillah telah dimulai.
Tiap saf seakan sudah "dikapling" oleh para saudagar yang berlomba-lomba memberikan sedekah makanan. Mereka membentuk tim kecil beranggotakan 7 hingga 10 orang, bahkan melibatkan anak-anak mereka untuk ikut membagikan minuman dan kue di hadapan jamaah. Ini adalah tradisi turun-temurun di Tanah Arab; sebuah kompetisi dalam kebaikan.
Kisah tentang jamaah yang "dipaksa" atau ditarik untuk duduk menikmati hidangan berbuka ternyata bukan sekadar mitos. Saya pun menjadi salah satu "korban" yang "ditangkap" dengan ramah. Mereka menghadang siapa saja yang masuk melalui gerbang masjid. Begitu kita menyatakan setuju, tangan kita langsung digandeng menuju tempat yang telah disiapkan.