
ROKAN HULU — Riauoke.com Ancaman nyata sempat menggantung di atas Jembatan Sei Bandar. Kondisinya rusak parah, papan-papan lapuk dan berlubang, membuat setiap langkah di atasnya terasa seperti mempertaruhkan nyawa. Jembatan yang menjadi urat nadi masyarakat itu nyaris berubah menjadi bencana yang menunggu korban.
Di tengah kondisi tersebut, Kepala Desa Rokan Koto Ruang, Alexusanto, S.IP, M.Ling, memilih tidak tinggal diam. Ia mengambil langkah cepat dengan menyediakan material kayu sebagai solusi darurat agar jembatan bisa segera diperbaiki.
“Ini bukan sekadar jembatan, ini akses hidup masyarakat. Kalau kita menunggu terlalu lama, risikonya nyawa warga yang jadi taruhan. Maka kami bergerak cepat, semampu yang bisa kami lakukan,” tegas Alexusanto saat diwawancarai di lokasi kegiatan.
Perbaikan dilakukan secara gotong royong bersama aparat kepolisian dari Polsek Rokan IV Koto yang dipimpin langsung oleh Kapolsek, Iptu Dodi Ripo Saputra, serta melibatkan Bhabinkamtibmas dan masyarakat setempat.
Dengan peralatan seadanya, mereka bahu-membahu mengganti papan yang lapuk, memperkuat bagian yang rawan ambruk, dan memastikan jembatan bisa kembali dilalui dengan lebih aman. Keringat, tenaga, dan kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam perbaikan tersebut.
Kapolsek Rokan IV Koto, Iptu Dodi Ripo Saputra, menegaskan bahwa kehadiran pihak kepolisian bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga bagian dari kepedulian terhadap keselamatan masyarakat.
“Kami tidak bisa menutup mata melihat kondisi ini. Keselamatan warga adalah yang utama. Karena itu kami turun langsung membantu bersama pemerintah desa dan masyarakat. Ini bentuk sinergi nyata,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi jembatan sebelumnya sangat membahayakan dan berpotensi menimbulkan kecelakaan kapan saja.
“Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kalau tidak segera diperbaiki, sangat berisiko. Kami berharap ada perhatian serius dari pihak terkait untuk pembangunan yang lebih permanen,” tambahnya.
Langkah cepat yang dilakukan pemerintah desa dan aparat kepolisian ini pun mendapat apresiasi dari masyarakat. Namun, di balik rasa syukur itu, tersimpan harapan besar agar pemerintah yang berwenang tidak lagi abai.
Perbaikan yang dilakukan saat ini hanyalah solusi sementara. Warga mendambakan pembangunan jembatan yang kokoh, layak, dan aman untuk jangka panjang.
“Jangan tunggu sampai ada korban dulu baru bertindak,” ujar seorang warga dengan nada penuh harap.
Kini jembatan Sei Bandar memang sudah bisa dilalui kembali. Namun pertanyaan besar masih menggantung—apakah perhatian serius akan segera datang, atau masyarakat harus kembali berjibaku sendiri saat kondisi memburuk nanti.[]spr