
oleh: Charly Simanullang
Perkembangan teknologi pemasaran bergerak sangat cepat dan menghadirkan berbagai kemudahan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Kecerdasan buatan, otomasi layanan, analitik data, hingga integrasi berbagai kanal komunikasi telah mengubah cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan.
Namun di balik kemajuan tersebut, muncul realitas yang tidak selalu sejalan dengan harapan, yaitu engagement pelanggan justru menunjukkan kecenderungan menurun. Perkembanga interaksi memang meningkat secara kuantitatif, tetapi kualitas hubungan antara penyedia produk dan konsumen akhir menurun. Pelanggan merespons, tetapi tidak terikat dengan kata lain secara prinsip mereka hadir, tetapi tidak benar-benar terhubung.
Fenomena ini menunjukkan adanya ilusi kedekatan dalam praktik pemasaran modern. Banyak organisasi merasa telah membangun hubungan yang kuat karena mampu menjangkau pelanggan melalui berbagai kanal digital. Akan tetapi, kedekatan tersebut sering kali bersifat superfisial. Interaksi direduksi menjadi angka klik, tayangan, atau respons tanpa memastikan apakah pengalaman yang dirasakan pelanggan benar-benar bernilai. Dalam kondisi ini, engagement kehilangan maknanya sebagai jembatan relasi, dan lebih menyerupai aktivitas mekanis yang terlepas dari dimensi emosional.
Akar persoalan ini tidak semata terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara teknologi dimaknai dan digunakan. Ketika otomasi menjadi dominan, interaksi cenderung kehilangan sentuhan dari manusia. Dilihat dari sisi kecepatan menjangkau konsumen memang tercapai, tetapi empati sering terabaikan dari interaksi yang dilakukan, sehingga keterikatan konsumen tidak dicapai.