
Mahasiswa menilai laporan keuangan kampus tidak mudah diakses oleh publik, termasuk civitas akademika. Mereka mempertanyakan penggunaan anggaran dan efektivitas pelaksanaan sejumlah proyek pembangunan di kampus.
“Kami menilai tidak ada laporan keuangan yang benar-benar terbuka. Mahasiswa berhak mengetahui penggunaan anggaran, apakah tepat sasaran atau tidak,” kata Munawar dalam aksi tersebut.
Salah satu yang menjadi sorotan mahasiswa ialah robohnya turab di lingkungan kampus. Mereka mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek serta proses penunjukan kontraktor.
Menurut Munawar, kontraktor yang sebelumnya mengerjakan proyek turab dan dinilai gagal justru kembali dipercaya menangani pembangunan Gedung Serba Guna senilai Rp10 miliar.
“Kalau hasil pekerjaan sebelumnya bermasalah, kenapa masih diberi proyek baru dengan nilai besar,” ujarnya.