
“Sebelumnya ini bekas kebakaran. Dulu semak belukar semua. Setelah itu saya coba tanam jagung, tapi gagal karena lahannya gambut dan sering banjir. Akhirnya saya putuskan menggali kolam,” tutur Alex Supirman penerima bantuan Program DMPA sembari memandang air kolam yang tenang, Kamis (16/7/2026).
Keputusan itu mengubah arah hidupnya. Sejak 2019, ia mulai menekuni usaha perikanan. Mula-mula memelihara nila, gurame dan bawal. Hasil panennya cukup menjanjikan. Bahkan sebagian kolam disulap menjadi tempat pemancingan berbayar yang ramai didatangi warga.
Kini, empat keramba di lahannya diisi 2.000 ekor benih ikan baung unggul hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Bibit itu merupakan bagian dari Program Uji Coba Multilokasi Budidaya Ikan Baung kolaborasi PT Arara Abadi Unit Usaha APP Group bersama BRIN.
Usia benih baru menginjak tiga bulan. Namun pertumbuhannya membuat Alex optimistis. Saat pengambilan sampel pada umur 72 hari, pertumbuhan ikan dinilai sangat baik. Jika tidak ada kendala, sekitar Agustus atau September nanti ribuan baung itu siap dipanen.
“Bibitnya 2.000 ekor di empat keramba. Mulai dari bibit, keramba sampai pakannya dibantu. Mudah-mudahan nanti panennya berhasil,” kata Alex dengan senyum khasnya.
Namun di balik aktivitas beternak dan membudidayakan ikan, Alex memikul tanggung jawab lain yang tak kalah penting. Lahan miliknya berbatasan langsung dengan areal hutan tanaman industri. Karena itu ia juga menjadi mitra binaan dalam Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA). Perannya bukan hanya mengelola kolam, tetapi menjadi mata dan telinga pertama ketika muncul tanda-tanda kebakaran.