
SIDOARJO (Riauoke.com) - Delegasi tingkat tinggi dari Pemerintah Indonesia dan United Nations Development Programme (UNDP) mengunjungi Sidoarjo pada 17-18 September 2026 untuk melihat bagaimana rumput laut dapat membantu membuka potensi ekonomi biru Indonesia yang lebih luas, memperkuat mata pencaharian masyarakat pesisir, menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global yang terus berkembang.
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas di bawah Archipelagic and Island States (AIS) Forum, sebuah inisiatif Pemerintah Indonesia yang Sekretariatnya didukung dan difasilitasi oleh UNDP, untuk menunjukkan solusi praktis bagi pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno; Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tb. Haeru Rahayu; perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, yaitu Nani Hendiarti, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, serta Dandy Satria Iswara, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim; perwakilan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; pemerintah daerah; serta masyarakat pesisir turut serta dalam kunjungan lapangan tersebut.
Delegasi mengunjungi lokasi budidaya rumput laut dan Koperasi Agar Makmur Sentosa untuk melihat bagaimana pendekatan terpadu dapat memperkuat produksi, mata pencaharian, dan rantai nilai rumput laut secara lebih luas.
Rumput laut merupakan salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membuka potensi ekonomi birunya secara lebih luas. Indonesia termasuk salah satu produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, termasuk Gracilaria spp., dan tetap menjadi eksportir utama dunia dengan menyumbang sekitar 69 persen ekspor rumput laut global pada 2025.