
Menurut Afni, meskipun keduanya kemungkinan tidak pernah bertemu karena berbeda zaman dan abad, terdapat kesamaan semangat yang sangat kuat. Keduanya menjadi inspirasi tentang bagaimana perempuan mengambil peran penting dalam membangun pendidikan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Afni kemudian mengajak undangan menengok sejarah Kesultanan Siak, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II dan peran permaisurinya, Tengku Agung Syarifah Latifah. Ia menceritakan, pada masa itu, anak-anak perempuan di lingkungan masyarakat Siak belum memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai. Bahkan, sebagian anak perempuan dinikahkan pada usia sangat muda, ketika baru memasuki masa akil balig.
Dalam situasi sosial seperti itulah Tengku Agung Syarifah Latifah menunjukkan pemikiran yang luar biasa maju. Bersama Sultan Syarif Kasim, ia melihat bahwa pendidikan merupakan jalan penting untuk mengentaskan kemiskinan, membebaskan masyarakat dari kebodohan, sekaligus menghadapi tekanan penjajahan. Afni menegaskan bahwa perjuangan melawan penjajahan pada masa itu tidak selalu harus dilakukan melalui peperangan. Ada jalan lain yang jauh lebih mendasar, yakni membangun kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.
"Karena itu kemudian Sultan bersama permaisuri, Tengku Agung Syarifah Latifah, mengatakan bahwa hanya ada salah satu cara untuk kita mengentaskan kemiskinan dan keluar dari penjajahan. Tetapi waktu itu kita tidak mungkin berperang secara langsung. Caranya apa? Pendidikan," tutur Afni.
Atas dukungan Sultan Syarif Hasyim, Tengku Agung Syarifah Latifah kemudian mendirikan Latifah School, sekolah khusus perempuan yang bangunannya hingga kini masih dapat dijumpai di kawasan Istana Asserayah Hasyimiah, Siak Sri Indrapura. Sekolah tersebut tidak hanya memberikan pendidikan dasar, tetapi juga mengajarkan tiga bahasa sekaligus, yakni bahasa Arab, Inggris, dan Belanda.