
"Ini sekolah perempuan pertama. Di masa penjajahan yang tidak tanggung-tanggung, mengajarkan tiga bahasa sekaligus khusus untuk perempuan saat itu. Pertama bahasa Arab, kedua bahasa Inggris, dan ketiga bahasa Belanda," jelasnya.
Dari sejarah Tengku Agung Syarifah Latifah, Afni kemudian menarik persamaan dengan sosok Chadijah Ali. Menurutnya, semangat yang diperjuangkan kedua tokoh tersebut memiliki benang merah yang sama. Walaupun hidup pada zaman yang berbeda, keduanya memberikan perhatian terhadap perempuan dan pentingnya pendidikan sebagai jalan membangun kehidupan yang lebih baik.
Ia melihat perjalanan Universitas Islam Chadijah Ali Riau sebagai momentum untuk kembali menghidupkan semangat pemikiran besar tentang pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Afni mengajak masyarakat, khususnya kalangan akademisi, untuk tidak sekadar mengenang nama besar kedua tokoh tersebut, tetapi juga menyerap nilai-nilai perjuangan yang diwariskannya.
"Pemikirannya Ibunda Chadijah Ali juga sama. Yang difokuskannya adalah perempuan. Mengapa harus perempuan?" ujar Afni.
Karena perempuan mempunyai kedudukan strategis dalam kehidupan masyarakat. Perempuan bukan hanya bagian dari keluarga, tetapi juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi, melahirkan anak-anak berkualitas, dan menentukan masa depan bangsa. Afni menyebut, pendidikan perempuan harus mendapatkan perhatian serius. Perempuan yang terdidik akan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi dirinya, berkontribusi bagi masyarakat, dan mengambil bagian dalam pembangunan.