
Tokyo, Jepang (riauoke.com) Setelah mencoba 1 bulan Ramadhan di Mekkah dan Medinah, saya juga berkesempatan merasakan berpuasa di Negeri Sakura, Jepang. Tentu jauh berbeda terutama dalam hal cuaca, Arab cuacanya panas dan Jepang musim dingin.
Ramadhan di Jepang memang agak lain dengan di dua negara Indonesia dan Arab, yang geliat Islamnya cukup kuat dan ramai. Lain halnya dengan di Jepang karena tak semua saudara kita muslim punya kesempatan di sana untuk melakukan ibadah taraweh dan berbuka bersama. Kawan dan teman mungkin kecapean setelah pulang kerja seharian, 8 jam kerja wajib dan lembur. Mungkin hari libur baru mereka bisa melakukan shalat teraweh ke mesjid terdekat.
Tidak banyak mesjid di seantero Jepang, lebih kurang ada sekitar 100 mesjid saja, letaknya bisa jauh dan dekat, dengan transportasi kereta api atau sepeda listrik menuju mesjid untuk berbuka dan taraweh.
Mesjid di Jepang tidak seperti di Indonesia atau Arab Saudi, di sini lebih banyak dalam bentuk ruko tiga lantai dan suasana tentu nyaman dan bersih.
Pengelola mesjid di Jepang bervariasi, di sini ada mesjid Turki yang khutbahnya bahasa Turki, mesjid Bangladesh ceramahnya bahasa Bangla dan kalau khutbahnya ingin bahasa Indonesia tentu harus ke mesjid Indonesia seperti di Mesjid Indonesia Tokyo (MIT) di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) Tokyo, atau Mesjid Indonesia Osaka (MIO) di Osaka, semua mesjid di seluruh Tokyo bisa kita tempuh dengan trasnportasi kereta api. Pakai mobil kurang lazim karena lahan parkir terbatas dan mahal biaya parkirnya.