
Rokan Hulu – Riauoke.com Di balik tenang dan hijaunya Rokan Hulu, sebuah gelombang besar sedang menghantam dinding-dinding kelas. Ada jerit perubahan yang tak lagi bisa dibungkam. Pendidikan Agama Islam (PAI) di Negeri Seribu Suluk kini tak lagi sudi hanya jadi pelengkap jadwal ia sedang dipaksa untuk bangkit dan bernapas lebih kencang.
Selama sepekan penuh, sejak 10 hingga 16 April 2026, puluhan guru dan Kepala Laboratorium PAI tidak sekadar duduk manis. Mereka "diseret" keluar dari zona nyaman dalam sebuah gemblengan fisik dan mental yang menguras pikiran. Ini bukan lagi soal sertifikat atau formalitas yang menumpuk di meja birokrasi; ini adalah upaya *radikal* untuk membongkar pola-pola kuno yang selama ini membuat pendidikan agama terasa dingin dan menjemukan.
Sentuhan "Dingin" dari Jakarta: Mengguncang Jiwa yang Tertidur
Tak main-main, dua "arsitek" perubahan didatangkan langsung dari jantung ibu kota. Dr. Yasri, M.Pd dan Drs. H. Bahruddin, M.Pd, widyaiswara nasional yang dikenal tanpa kompromi, hadir bukan untuk memberi ceramah pengantar tidur.
Mereka datang untuk menghancurkan cara berpikir lama yang kaku. Peserta dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa dunia telah berubah, dan jika guru agama tetap terpaku pada metode usang, mereka adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hilangnya karakter generasi mendatang.
Tiga pilar tajam dihunjamkan langsung ke jantung persoalan: