
"Saya sangat terkesan dengan industri pengolahan mangga amat luar biasa di Filipina. Filipina dapat memproduksi berbagai jenis produk dalam skala besar dengan dukungan kuat dari pemerintah. Kami berharap dapat melihat perkembangan serupa dalam industri mangga di Indonesia," ujar salah satu peserta, Elvan Setyono, ketua kelompok tani dari Jawa Barat.
Sebelum kunjungan lapangan ini, FAO memfasilitasi rangkaian pertukaran pengetahuan secara virtual selama dua bulan antara petani, perwakilan pemerintah, dan pakar teknis dari Indonesia dan Filipina pada bulan Mei dan Juni 2026.
Sebagai contoh, untuk menanggapi masalah lalat cecid pada mangga di Filipina, petani Indonesia berbagi pengalaman mereka dalam menerapkan pendekatan pengelolaan berbasis wilayah ( area-wide management ); sebuah metode sederhana, hemat biaya, dan lebih berkelanjutan untuk mengatasi lalat buah yang dapat diterapkan secara berkelompok di suatu wilayah geografis, alih-alih hanya di lahan pertanian individu.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan FAO dalam memfasilitasi Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (SSTC), yang mencakup pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta sumber daya teknis dan finansial yang saling menguntungkan terkait pertanian dan sistem pangan di antara dua negara berkembang atau lebih.
Wawasan yang diperoleh dari pertukaran ini akan menjadi bahan masukan bagi otoritas Filipina dalam menyusun Rencana Aksi Pengendalian dan Pengelolaan Lalat Cecid serta Prosedur Operasional Standar untuk Praktik Pertanian yang Baik (GAP). Sementara itu, pemerintah Indonesia juga diharapkan dapat mengadopsi praktik baik dalam manajemen pascapanen dan irigasi guna meningkatkan daya saing serta keberlanjutan sektor mangga di Indonesia.[]rls