
“Pola makan yang mencegah rasa lapar belum tentu mencegah malnutrisi. Diperlukan pangan sehat untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam menjalani kehidupan yang aktif dan sehat. Hal ini berarti mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan pangan hewani dalam jumlah yang cukup,” ujar Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.
Pola makan sehat adalah pola makan yang cukup, seimbang, beragam, bergizi, dan aman. Bentuknya dapat bervariasi; bergantung pada konteks individu dan budaya, serta ketersediaan pangan lokal dan kebiasaan makan setempat. Sayangnya, perubahan lingkungan, tekanan ekonomi, dan perubahan iklim kian menghambat akses terhadap pangan sehat.
Laporan SOFI 2026 mengungkapkan bahwa biaya untuk menerapkan pola makan sehat terus meningkat setiap tahun, baik secara global maupun di Indonesia. Pada tahun 2025, biaya untuk pola makan sehat di Indonesia mencapai sekitar US$5 per orang per hari, yang diukur berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) saat ini.
Kondisi ini menyebabkan pangan sehat masih belum terjangkau oleh sebagian besar penduduk Indonesia.
“Indonesia telah memiliki sistem irigasi, infrastruktur logistik, dan inovasi yang baik, yang telah mendukung kemajuan negara ini dalam mengatasi kelaparan. Agar pangan sehat dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, keberhasilan ini perlu diperluas hingga mencakup buah-buahan, sayuran, dan berbagai jenis pangan kaya kandungan gizi lainnya. Investasi ini harus menjangkau wilayah-wilayah yang kurang terlayani, produsen skala kecil, serta konsumen dengan tingkat pendapatan rendah,” kata Rajendra.