
Kemajuan ilmiah dan teknologi yang dapat membantu masyarakat dalam memproduksi, mengolah, dan mengakses pangan bergizi dengan lebih baik—sekaligus meningkatkan taraf hidup, membangun ketahanan, dan menjaga lingkungan—perlu diperluas cakupannya melalui dukungan lintas sektor dari pemerintah, sektor swasta, mitra pembangunan, dan masyarakat, tambah Rajendra.
Berbagai inovasi ini mencakup berbagai hal, mulai dari layanan konsultasi digital dan sistem peringatan dini hingga sensor nutrisi, irigasi presisi, serta mekanisme pembiayaan inklusif bagi petani skala kecil. Selain itu, terdapat pula inovasi dalam pengolahan pangan yang bertujuan untuk mengurangi susut dan sisa pangan, sekaligus membangun ekonomi sirkular.
Inovasi juga dapat mencakup pengetahuan dan tradisi yang diwariskan oleh masyarakat lokal maupun Masyarakat Adat, terutama jika dipadukan dengan sains dan teknologi modern untuk membantu produsen pangan beradaptasi terhadap perubahan iklim dan tantangan lingkungan.
“Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa inovasi yang telah terbukti efektif dapat tersedia, terjangkau, dan dapat diterapkan oleh jutaan petani skala kecil di Indonesia, termasuk perempuan, yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap pendanaan, teknologi, infrastruktur, informasi, dan pasar, padahal peran mereka sangatlah krusial,” ujar Rajendra.
Sebagai bagian dari upaya untuk memperkecil kesenjangan gender, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tahun 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan (International Year of the Woman Farmer). Penetapan ini bertujuan mendorong kebijakan dan investasi yang lebih kuat untuk mendukung peran petani perempuan serta mengatasi berbagai tantangan yang mereka hadapi.