Dalam beberapa keluarga, hubungan ayah dan anak tidak harmonis karna adanya kekerasan dalam rumah tangga(KDRT) baik secara verbal maupun fisik adanya bentakan, makian hingga tindakan kasar sering di anggap sebagai bentuk “Pendidikan†padahal hal tersebut meninggalkan luka mendalam pada psikologi anak. Kehadiran seorang ayah secara emosional memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seorang anak. Psikolog keluarga Andini Pratiwi, M.Psi., menegaskan bahwa “anak yang memiliki kedekatan emosional dengan ayah cenderung lebih percaya diri, stabil secara emosi dan memiliki kemampuan sosial yang baik.†Sayangnya, hal ini sering diabaikan karena banyak orang tua terutama ayah masih memandang perannya sebatas mencari nafkah. Padahal, menjadi ayah sejati bukan hanya soal memenuhi kebutuhan finansial melainkan juga hadir dalam kehidupan batin anak-anaknya.
Trauma emosional pada anak sering muncul karena kurangnya kasih saying atau pengalaman negatif bersama ayah seperti sering dimarahi, diabaikan atau kurang mendapat perhatian. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas, tertutup, dan sulit percaya pada orang lain. Beberapa contoh trauma emosional pada anak:
Untuk memperbaikinya ayah dan anak dapat membangun komunikasi yang lembut dan terbuka. Langkah kecil seperti :
Hari Ayah Nasional mengajarkan bahwa cinta seorang ayah tidak selalu dalam bentuk yang ideal. Tidak semua anak punya cerita hangat untuk diceritakan dan tidak semua ayah mampu mengekspresikan cinta dengan mudah. Namun, di balik perbedaan itu ada kesamaan yang abadi setiap ayah ingin anaknya bahagia dan setiap anak merindukan kasih seorang ayah. Mungkin, Hari Ayah tidak harus selalu dirayakan dengan kata-kata manis ataupun hadiah melainkan cukup dengan niat dan saling memahami satu sama lain bahwa dibalik sosok yang tegas dan kaku itu ada hati yang juga ingin dicintai.[]