Cerita sederhana ini menunjukkan bahwa rasa aman, efisiensi biaya, dan kemudahan adalah bentuk nyata nilai tambah publik yang dihasilkan oleh kebijakan energi yang berpihak pada rakyat.
Kisah lain datang dari Ibu Sugiem (63), pelaku usaha kecil di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Di dapurnya yang sederhana, kompor menyala bukan hanya untuk memasak, tetapi juga untuk menyalakan semangat hidup. Ia memproduksi telur asin, peyek, dan keripik pisang dengan penuh semangat.
“Sejak menggunakan Jargas PGN, saya merasa lebih enak dan semangat berusaha. Tidak bingung lagi mencari gas elpiji, tidak takut kebocoran. Produksi lebih banyak, hasil lebih bagus,†katanya dengan senyum lebar. Sebelumnya, ia sering kali menunda menggoreng adonan karena gas habis di tengah malam. Kini, ia bisa berproduksi lebih cepat dan konsisten. Dalam kisahnya, energi bersih menjadi penggerak produktivitas perempuan dan ekonomi rumah tangga.
Di Dusun Pinang Sebatang Timur, Ibu Waemun, ketua RT setempat, menuturkan bagaimana antusiasme warganya terhadap program ini begitu tinggi.
“Gratis semua. Kami tinggal terima bersih. Dulu kalau gas habis malam-malam, susah mencarinya. Sekarang tidak lagi. Bahkan kompor pun disediakan. Teknisi PGN sudah kami anggap seperti saudara,†ujarnya.