
"Peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan peningkatan daya saing dan perluasan peluang pasar. Petani kita dapat memperoleh manfaat maksimal dari industri mangga hanya jika kita mampu secara konsisten menghasilkan produk yang aman dan berkualitas tinggi, mengurangi susut pascapanen, memberikan nilai tambah, serta memenuhi persyaratan pasar domestik maupun internasional," tambah De Sagun.
Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular: Menawarkan solusi praktis untuk tantangan bersama
Mangga merupakan salah satu komoditas buah unggulan di kedua negara, namun masih terdapat berbagai tantangan yang memengaruhi produksi, produktivitas, kualitas produk, akses pasar, serta keberlanjutan lingkungan di sektor ini. Permasalahan ini mencakup berbagai hal, mulai dari serangan hama dan penyakit hingga susut pascapanen.
Indonesia memproduksi 3 juta metrik ton mangga pada tahun 2025, namun nilai ekspornya turun sebesar 37% menjadi 1,1 juta USD pada tahun yang sama, sementara nilai impor meningkat 27% menjadi 2,32 juta USD menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Negara tujuan ekspor utama meliputi Uni Emirat Arab, Singapura dan Malaysia.
Sementara itu, Filipina memproduksi sekitar 764.000 metrik ton mangga pada tahun 2024; komoditas ini merupakan buah ekspor terbesar ketiga bagi negara tersebut dan menopang mata pencaharian sekitar 2,5 juta petani.