
Pada pilar Manusia (People) , yang dipandu oleh UNICEF, UNHCR, dan UN Women, kegiatan “Boleh atau Tidak Boleh?” mengeksplorasi hak-hak anak, rasa hormat, dan persetujuan diri (consent) melalui berbagai skenario kejadian sehari-hari. Sementara itu, pada pilar Bumi (Planet) , FAO dan IOM memandu kegiatan “One Planet, One Mission” di mana peserta Pramuka diajak untuk menjawab pertanyaan Benar atau Salah seputar perubahan iklim, kelestarian lingkungan, dan ketangguhan bencana.
Selanjutnya, pilar Perdamaian (Peace) yang dipandu oleh UNODC dan UNFPA menggunakan kegiatan "Pause, Check, Protect" untuk membantu para peserta merenungkan perilaku yang aman, baik di dunia nyata maupun dunia maya, termasuk dalam menghadapi situasi yang melibatkan rumor, penyebaran informasi, hingga ejekan. Di bawah pilar Kesejahteraan (Prosperity), ILO dan UNHCR memandu kegiatan “Cards for Change” sebuah aktivitas interaktif yang berfokus pada pengembangan keterampilan, keadilan, kesetaraan peluang, dan kerja sama tim.
Perjalanan ini kemudian ditutup dengan pilar Kemitraan (Partnership) melalui kegiatan “The Goals Are Global, the Action Is Ours” yang dipandu oleh UNFPA, UNV, ILO, dan keluarga besar PBB. Melalui sesi interaksi tanya-jawab secara bersama-sama, peserta Pramuka mempelajari bagaimana anak muda, masyarakat, pemerintah, PBB, dan mitra lainnya memiliki peran penting masing-masing dalam mencapai SDGs—sekaligus memperkuat pesan bahwa tujuan global sangat bergantung pada aksi nyata bersama di tingkat lokal.
“ Swasembada pangan bukan semata persoalan tanam-menanam. Di dalamnya terdapat pendidikan, keterampilan, teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, serta kesiapan generasi muda untuk mengenal dan ikut menyelesaikan persoalan nyata di lingkungannya. Melalui pendidikan kepramukaan, kami berupaya menumbuhkan budaya produktif, rasa cinta terhadap pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kepedulian terhadap lingkungan, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta semangat kewirausahaan sejak usia muda ” tegas Budi Waseso, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia.
Program terakhir pada acara ini menampilkan “ Bubble Trouble ” sebuah film karya O.M.G Film yang merupakan bagian dari UNiTE Short Film Fellowship 2025 inisiasi UN Women dan UNFPA. Sesi refleksi dari film ini membuka ruang diskusi tentang solidaritas dan keberanian untuk bertindak saat melihat hal yang salah, serta menantang norma-norma sosial yang selama ini kerap mewajarkan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Setelah menonton, para peserta Pramuka mengulas kembali momen-momen tertentu dalam film, memikirkan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan karakter selanjutnya, menjawab pertanyaan berbasis skenario, dan mengikuti kuis interaktif. Sesi ini ditutup dengan Pembacaan Komitmen Pramuka tentang Rasa Hormat dan Perlindungan , yang mendorong peserta untuk menghargai batasan pribadi orang lain, berani angkat bicara jika ada sesuatu yang tidak benar, dan mencari bantuan dari orang dewasa yang tepercaya bila diperlukan.