SRINAGAR (riauoke.com) -Masyarakat Muslim di Kashmir menghadapi tantangan dalam beribadah. Mereka kini tidak pernah lagi shalat Jumat di tempat ibadah umat Islam terbesar di Kashmir, Jama Masjid. Sudah 17 kali berturut-turut mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban shalat Jumat.
Dikutip dari republika.co.id, Syed Ahmad Syed Naqashbandi telah memimpin shalat di Masjid Jama sejak 1963. Dikenal sebagai Imam-e-Hai di wilayah itu, Naqashbandi mengatakan, blokade turut mempengaruhi keberadaan Muslim.
Sejak 5 Agustus, imam berusia 80 tahun itu dipaksa shalat di sebuah masjid sejauh lima kilometer dari Masjid Jama. "Kebahagiaan shalat di Masjid Jama sulit dirasakan di tempat lain. Saya rindu berada di sana," kata dia, dilansir di Aljazirah, Selasa (10/12).
Ia mengatakan, kehadiran polisi dan pasukan paramiliter yang terus-menerus di sekitar masjid agung itu merupakan ancaman bagi rakyat. "Itu selalu, karena kehadiran mereka di sekitar masjid, masalah akan terjadi," kata Naqashbandi.
Setiap Jumat, biasanya Masjid Jama di Srinagar digunakan oleh ribuan Muslim dari seluruh lembah yang datang untuk beribadah. Pada 6 Desember menandai 17 Jumat berturut-turut di mana shalat tidak dapat dilakukan lagi di masjid tersebut.