Artikel oleh: Rita Br. Purba
Setiap tanggal 12 November, Indonesia memperingatin Hari Ayah Nasional sebagai wujud penghargaan atas peran penting seorang ayah bagi keluarga. Ayah merupakan sosok kepala rumah tangga yang bertugas mencari nafkah, membimbing, melindungi serta menjadi panutan bagi anak-anaknya. Hari ini seolah menjadi momen penting bagi anak-anak untuk mengekspresikan rasa terimakasih, mengunggah foto/video kebersamaannya dengan ayah atau menulis kisah haru tentang perjuangan seorang ayah yang telah mencurahkan hidupnya demi keluarga. Namun, di balik ucapan yang penuh cinta di media sosial ada sebagian anak yang justru memilih untuk diam. Mereka yang tidak memiliki foto/video untuk diunggah atau kisah hangat untuk diceritakan. Sebab, tidak semua anak memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya dan itu adalah kenyatan yang kerap tidak disadari banyak orang.
Penyebab Anak Tidak Dekat dengan Ayah
Hubungan antara ayah dan anak tidak selalu berjalan hangat dan harmonis. Ada anak yang tumbuh dengan ayah yang keras, sibuk, atau bahkan tidak pernah hadir secara emosional seorang anak. Sebagian anak, sosok ayah hanya simbol tanggung jawab tanpa kehangatan pelukan atau sapaan lembut. Menurut Dr. Rachmat Hidayat, pakar komunikasi keluarga dari Universitas Indonesia, “jarak emosional antara ayah dan anak di banyak keluarga Indonesia masih cukup tinggi karena faktor budaya yang menempatkan ayah sebagai figur otoritas, bukan kedekatan.†Nilai-nilai budaya seperti “Laki-laki tidak boleh menangis†atau teguh pada steatment “ayah harus kuat didepan anak†membuat banyak pria menekan ekspresi emosinyaa dari sejak kecil.Akibatnya, Ketika menjadi orang tua mereka cenderung sulit mengekspresikan kasih saying secara terbuka. Hal ini lah yang menimbulkan jarak emosional antara ayah dan anak terutama dalam komunikasi sehari-hari. Budaya patriarki yang mengakar membuat banyak seorang ayah terbiasa menajaga wibawa dan menekan ekspresi emosional mereka.