×
HOME / Opini
Ironi di Lhoknga: Ketika Sultan Siak dan Pemuda Sosialis Bersatu di Bawah Panji Revolusi
Jumat, 20 Februari 2026 | 09:41:29 WIB
Editor : admin | Penulis : admin

Ziarah itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah pernyataan politik bahwa revolusi Indonesia bukan milik satu golongan saja. Ia adalah jaringan solidaritas yang melibatkan raja, ulama, intelektual, hingga rakyat jelata. Aceh membuktikan posisinya sebagai benteng moral dan logistik yang menjaga denyut nadi Republik tetap berdetak di saat pusat pemerintahan di Jawa tengah limbung oleh konflik internal, seperti Peristiwa Madiun.

Sejarah mencatat, Kerajaan Siak yang berdiri sejak 1723 oleh Raja Kecik, telah melewati perjalanan panjang melalui 13 sultan. Dari masa kejayaan bahari yang membentang hingga Semenanjung Malaya, hingga masa transisi berat pada 1945. Namun, peran Sultan Syarif Qasim II di pengungsian Aceh tetap menjadi salah satu bab paling emosional dalam historiografi kita.

Peristiwa di Lhoknga tahun 1948 itu menjadi pengingat bagi kita hari ini: bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang saling menguatkan. Ketika sang Sultan dan para pemuda sosialis menundukkan kepala di makam yang sama, mereka sedang menorehkan pesan abadi bahwa di hadapan ancaman kedaulatan, ego golongan adalah debu yang harus disapu bersih. Sebagaimana pepatah lokal menyebutnya, Aceh memang hana ubat—ia memiliki daya tawar dan keteguhan yang tak tertandingi dalam menjaga marwah bangsa.[]suranto

Baca :

 

Daftar Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura


Pilihan Editor
Berita Lainnya
Ekonomi
Nasional
Internasional
Gambar Artikel
Komandan PMPP TNI kunjungi korban luka di Lebanon 
Minggu, 5 April 2026 | 13:05:00 WIB
Travelling
Daerah