
“Kita akan menghadapi periode kemarau hingga tujuh bulan,” jelas Hanif.
Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Karakteristik lahan gambut yang luas, hampir setengah dari total daratan, serta keberadaan lebih dari 13 ribu kilometer kanal menjadi faktor yang mempercepat pengeringan gambut saat musim kemarau.
Akibatnya, risiko kebakaran meningkat, terlebih di sejumlah titik tinggi muka air gambut telah berada di bawah ambang aman, yakni kurang dari 80 sentimeter.
Hanif menekankan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, hingga masyarakat diminta memperkuat sinergi dan tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial.
“Diperlukan langkah operasional yang konkret serta koordinasi intensif hingga ke tingkat daerah,” katanya.