
"Tahun 1997, saya dan suami balik ke kampung dengan membawa anak pertama kami, dari situlah kami memulai semuanya dari 0 kembali, setelah sebelumnya suami sempat bekerja di Kota Pekanbaru. Waktu itu kondisi ekonomi keluarga masih serba terbatas," ungkap Ratil sambil mengenang kembali kenangan saat awal mula ia merintis dulu.
Bagi Ratil, keputusan untuk kembali ke kampung halaman bukanlah tanda menyerah, melainkan langkah besar untuk memulai kehidupan baru bersama keluarga. Ia memahami betul bahwa keinginan kuat suaminya untuk pulang ke desa lahir dari tekad untuk mengabdi dan membangun kampung halaman melalui usaha yang bisa mereka jalani bersama masyarakat setempat.
Ratil dan suaminya merupakan lulusan sarjana dari salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Pekanbaru. Namun, di tengah peluang untuk bertahan dan bekerja di kota, keduanya justru memilih kembali ke Desa Koto Benai. Keputusan itu kemudian menjadi titik balik bagi mereka untuk memulai kehidupan baru sekaligus terlibat dalam pengembangan usaha peternakan di Desa Koto Benai.
“Padahal pada tahun 1999 itu Kabupaten Kuantan Singingi baru dimekarkan. Sebenarnya saat itu menjadi kesempatan bagi kami untuk menjadi pegawai pemerintah, karena kami sama-sama memiliki ijazah sarjana. Tapi waktu itu kami belum berminat ke arah sana dan memilih fokus mengembangkan usaha ternak sapi ini,” ucap Ratil.
Sejak kecil, Ratil sudah terbiasa hidup berdampingan dengan ternak sapi. Saat menginjak bangku sekolah menengah pertama, ia mulai diajarkan orang tuanya cara merawat sapi, mulai dari mencari pakan, membersihkan kandang, hingga menggembalakan ternak. Dari usaha peternakan keluarga itulah, Ratil akhirnya bisa melanjutkan pendidikan hingga menempuh gelar sarjana.