
Sementara itu, Yurdi Yasmi, Direktur Divisi Produksi dan Perlindungan Tanaman FAO sekaligus penyelenggara Konferensi Global tentang Pertanian Cerdas menyebutkan berbagai tantangan agripangan global yang kini kian mendesak - yakni perubahan iklim, degradasi tanah dan air, kenaikan harga alat dan bahan seperti pupuk, serta berbagai kendala yang dihadapi tenaga kerja. Banyak negara di dunia, seperti Indonesia, kini menghadapi tantangan yang sama.
“Pertanian cerdas menjadi solusi di tengah berbagai tantangan yang tengah dihadapi sektor pangan dan pertanian. Dengan memanfaatkan data terkini, berbagai teknologi, intervensi yang mengedepankan presisi, serta otomatisasi, kita dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Direktur Yasmi.
Ia menambahkan lebih lanjut bahwa “sama halnya dengan makanan yang membutuhkan keseimbangan antara bumbu dan bahan, pertanian cerdas juga membutuhkan perpaduan yang seimbang antara sains, inovasi, dan pengetahuan masyarakat lokal. Tentunya dengan memperhatikan kondisi pertanian, lingkungan, ekonomi dan sosial masyarakat setempat.”
Sajian Sagu dari Papua dan Pisang Mas Kirana dari Jawa Timur
Dalam kegiatan ini, ditampilkan juga berbagai kisah sukses produksi pangan dari berbagai daerah yang dibina melalui program-program kerja sama Pemerintah Indonesia dan FAO, seperti produsen sagu di Provinsi Papua, desa perikanan cerdas di Provinsi Jawa Barat, para petani keren yang membudidayakan cabai di Pulau Sumatera, dan petani pisang yang mendapat manfaat dari pertanian presisi di Provinsi Jawa Timur.