
Untuk memberikan pengalaman kuliner yang autentik, sagu yang digunakan selama acara tersebut dibawa langsung dari petani lokal di Indonesia, sebagai salah satu sumber daya pangan yang tahan perubahan iklim.
Hidangan pertama, Papeda dengan Sup Ikan Tuna Kuning, menampilkan sagu, makanan pokok yang tahan perubahan iklim dari Indonesia Timur. Disajikan dengan kaldu tuna yang harum yang diresapi kunyit dan rempah-rempah lokal, hidangan ini mencerminkan tradisi makanan yang kaya di wilayah tersebut dan sumber daya perairan yang berkelanjutan.
Hidangan utama lainnya adalah Mie Sagu Goreng Pedas, yang menunjukkan ragam olahan sagu sebagai sumber makanan lokal yang bergizi dan berkelanjutan.
Untuk hidangan penutup, para tamu menikmati Eurimoo, hidangan manis tradisional yang terbuat dari sagu dan pisang matang. Hidangan penutup ini merayakan keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya, termasuk Pisang Mas Kirana dari Jawa Timur.
Setelah melihat proses memasak, para peserta diundang untuk mencicipi berbagai hidangan berbahan dasar sagu yang telah disiapkan. Para peserta yang mencicipi berbagai hidangan mengaku sangat terkesan dan terinspirasi.
Seorang peserta dari Rwanda mengatakan, "Harus saya akui meskipun saya tidak suka mie pada umumnya, tetapi saya terkejut bahwa saya bisa menyukai mie yang terbuat dari sagu ini. Rasanya segar, dan bisa disajikan sebagai salad, rasanya tidak terlalu berat."