
Peserta lain dari Jepang mengatakan, "Enak sekali. Saya suka keseimbangan antara rasa manis dan pedasnya," memuji cita rasa yang seimbang dari berbagai hidangan yang disajikan. Sambutan hangat dan antusias dari para peserta menunjukkan daya tarik luas masakan berbahan dasar sagu sebagai bagian dari kekayaan kuliner nusantara.
Kemitraan FAO dan Indonesia dalam pertanian cerdas
"Beragam hidangan khas Indonesia yang disuguhkan pada acara ini adalah wujud kemitraan jangka panjang antara Pemerintah Indonesia, masyarakat setempat, dan FAO. Kami menggabungkan tradisi, inovasi, dan tindakan nyata untuk mewujudkan produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan penghidupan yang lebih baik untuk semua, tanpa meninggalkan siapa pun," kata Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.
Di Desa Yoboi, Provinsi Papua, FAO dan Kementerian Pertanian mendukung komunitas lokal untuk memodernisasi pengolahan sagu, hingga dapat memangkas waktu produksi yang sebelumnya memakan waktu beberapa hari menjadi hanya sekitar lima jam. Komunitas lokal di Desa Yoboi kini dapat meningkatkan nilai produk sagu dan mengakses pasar yang lebih luas.
Sementara itu, di Bogor, Jawa Barat, FAO dan Kementerian Kelautan dan Perikanan membantu mentransformasi komunitas perikanan tradisional menjadi pusat produktivitas perikanan yang lebih modern, selaras dengan visi Ekonomi Biru Indonesia.
Acara ini juga menyoroti program, “Petani Keren”, yang mendorong anak muda Indonesia untuk berkecimpung di bidang pertanian. Di Lampung, Sumatera, petani muda didorong menggunakan teknologi rumah kaca dan pendekatan kewirausahaan yang optimal untuk menghasilkan cabai dan beragam produk pangan lainnya.