
"Secara umum, CPF 2026-2030 mencakup dukungan FAO dalam seluruh aspek kunci untuk mentransformasi sistem pertanian-pangan kita, memajukan ketahanan iklim, serta adaptasi risiko yang akan memperkuat fondasi kita dalam jangka panjang," ujar Teguh saat peluncuran CPF pada hari Kamis (20/8) di Jakarta.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi menyampaikan apresiasinya atas dukungan berkelanjutan FAO kepada Pemerintah Indonesia melalui bimbingan teknis, penguatan kapasitas, dukungan kebijakan, serta akses terhadap pengetahuan dan pengalaman internasional.
“Kami ingin hubungan Indonesia-FAO semakin berkembang menjadi kemitraan dua arah. Indonesia tidak hanya menerima pengetahuan dan dukungan teknis, tetapi juga dapat berbagi pengalaman, inovasi, dan pembelajaran melalui pertukaran pengetahuan serta Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular,” ujar Suwandi.
Selain selaras dengan RPJMN, rencana kerja sama ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Kerangka Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan PBB (UNSDCF) periode 2026-2030. Dokumen CPF disusun melalui konsultasi mendalam dengan Kementerian Pertanian, Bappenas, serta kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan terkait lainnya, dengan memanfaatkan pembelajaran dari pelaksanaan CPF sebelumnya.
"Oleh karena itu, CPF dirancang berdasarkan pendekatan komprehensif yang mengakui bahwa berbagai sektor—seperti pertanian, ketahanan pangan dan gizi, pengelolaan sumber daya alam, aksi iklim, perlindungan sosial, kesehatan, dan pembangunan ekonomi—saling terkait erat dan bukan merupakan entitas yang terpisah. Pandangan holistik ini sangat penting dalam mengatasi tantangan yang kompleks dan saling berkaitan," ujar Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal.