
Seruan untuk tingkatkan investasi dalam transformasi sistem pangan-pertanian
Peluncuran CPF ini juga menandai seruan untuk meningkatkan investasi dalam mengubah cara kerja sistem pangan-pertanian saat ini. Sistem pangan-pertanian saat ini menimbulkan biaya tersembunyi yang amat besar terhadap kesehatan, lingkungan, dan masyarakat, baik secara global maupun di Indonesia.
Laporan terbaru FAO memperkirakan bahwa biaya tersembunyi di Indonesia mencapai USD 319 miliar, yang dikaitkan dengan biaya akibat penyakit tidak menular, kerusakan lingkungan, dan kemiskinan. Sementara itu, sekitar 68% penduduk Indonesia masih belum mampu membeli pola makan sehat, menurut laporan FAO The State of Food and Agriculture 2026.
Sebagai bagian dari upaya transformasi sistem pangan-pertanian, pelaksanaan CPF 2026-2030 diperkirakan membutuhkan dana sebesar USD 95 juta selama lima tahun. Pemerintah Indonesia dan FAO mendorong penguatan penganggaran, mobilisasi pendanaan campuran ( blended finance ) dan co-investment , serta pelibatan sektor swasta untuk mempercepat transformasi ini, sehingga inisiatif yang berhasil dapat dilembagakan dan diperluas cakupannya secara nasional.
"FAO tetap teguh pada komitmennya untuk mendukung Indonesia dalam mempercepat perubahan transformatif pada sistem pangan-pertanian, dengan tujuan tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, tetapi juga kesehatan lingkungan, pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan inklusif, serta masa depan yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Rajendra.