
Citarum juga memasok hampir 80 persen kebutuhan air minum Jakarta. Meski Program Citarum Harum yang dijalankan Pemerintah Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan, pencemaran akibat sampah masih perlu ditangani karena berdampak pada kesehatan, mata pencaharian, akses masyarakat terhadap air bersih, serta kesempatan mereka untuk terlibat secara bermakna dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
“Pembangunan ekonomi Indonesia harus terus membuka peluang sekaligus memastikan bahwa masyarakat dan lingkungan tetap terlindungi. Kondisi Sungai Citarum menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan memperkuat praktik bisnis yang bertanggung jawab dan mendengarkan suara mereka yang terdampak oleh keputusan ekonomi dan lingkungan, kita dapat mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif,” ujar Rofi Alhanif, Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia.
Di Yayasan Bening Saguling, Kabupaten Bandung Barat, delegasi melihat bagaimana inisiatif berbasis masyarakat membantu keluarga pemulung memperoleh penghasilan dari sampah yang mereka kumpulkan dan pilah untuk didaur ulang.
Upaya ini juga mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa memulihkan Sungai Citarum bukan hanya soal mengurangi pencemaran, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat, menjaga sumber penghidupan, membuka peluang ekonomi, dan memastikan warga dapat hidup serta bekerja dengan layak dan bermartabat.
Delegasi juga mengunjungi salah satu perusahaan lokal yang menerapkan praktik bisnis yang bertanggung jawab melalui upaya menjaga kesejahteraan dan keselamatan pekerja, mendengarkan aspirasi masyarakat, serta menyediakan saluran pengaduan. Perusahaan ini turut mendukung masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan 10 hektare lahan sawah yang dapat dimanfaatkan petani untuk menunjang mata pencaharian mereka.