
JAKARTA (riauoke.com) -- Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali mengguncang pasar energi global setelah penutupan Selat Hormuz menghentikan pengiriman minyak dari sejumlah negara produsen. Situasi tersebut memaksa Irak memangkas produksi sekaligus mempercepat pencarian jalur ekspor alternatif agar pasokan energi tetap mengalir ke pasar internasional.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perminyakan Irak Hayyan Abdul Ghani mengatakan pemerintah di Baghdad tengah bekerja secara intensif untuk memulihkan kapasitas ekspor minyak setelah gangguan yang dipicu konflik regional.
Dalam pernyataannya, Abdul Ghani menjelaskan bahwa Irak sebelumnya memproduksi sekitar 4,4 juta barel minyak per hari sesuai kuota OPEC, dengan ekspor mencapai sekitar 3,4 juta barel per hari. Sebagian besar ekspor tersebut selama ini dialirkan melalui fasilitas di wilayah selatan, terutama Terminal Minyak Basra, sebagaimana diberitakan TRT World.
Namun, penutupan Selat Hormuz sebagai jalur maritim utama pengiriman energi dunia memaksa Irak menghentikan ekspor dan menurunkan produksi secara drastis. Produksi minyak kini dipangkas hingga sekitar 1,5–1,6 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pemerintah juga memastikan kilang minyak tetap beroperasi pada kapasitas maksimum guna memasok bensin, solar, gas minyak cair, serta berbagai kebutuhan energi nasional.
Jalur Pipa Kirkuk–Ceyhan