PELALAWAN, RIAUOKE.COM – Pemandangan antrean panjang kendaraan kembali menghiasi Jalan Lintas Timur KM 35, Kelurahan Sei Kijang, Kabupaten Pelalawan pada Minggu (21/12/2025). Pantauan langsung tim Riauoke.com di lapangan menunjukkan puluhan hingga ratusan truk bermesin diesel harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.
Antrean dilaporkan mencapai panjang 3 hingga 5 kilometer, baik dari arah Pangkalan Kerinci maupun dari arah Pekanbaru. Kondisi ini disebut terjadi hampir setiap hari di seluruh SPBU di wilayah Riau.
Keluhan Sopir: Uang Jalan Menipis
Iwan, salah seorang sopir truk yang terjebak antrean, mengaku sangat terbebani dengan kondisi ini. Ia menjelaskan bahwa kuota solar bersubsidi dibatasi, sementara uang jalan yang diberikan perusahaan sangat minim.
"Kami hanya diberi jatah Rp600.000 dengan harga subsidi. Karena uang jalan minim, kami terpaksa ikut antre meski harus memakan waktu sampai seharian," ujar Iwan dengan nada kecewa.
Senada dengan Iwan, Hendri, seorang sopir lintas Jakarta-Medan, merasa ironis dengan kelangkaan solar di Bumi Lancang Kuning. Menurutnya, julukan Riau sebagai "Kota Minyak" tidak sebanding dengan kenyataan di lapangan.
"Sudah tiga hari saya di perjalanan, uang jalan sudah menipis. Katanya Riau kaya minyak, tapi kenyataannya minyak langka. Kami masyarakat kecil tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menanggung penderitaan ini bersama-sama," ungkap Hendri.
Terkait kondisi ini, pihak pengelola SPBU PT Awal Bros Sekijang dan SPBU PT Condo Kerinci Kiri belum memberikan pernyataan resmi. Humas dari kedua perusahaan tersebut dilaporkan tidak berada di tempat saat dikonfirmasi.
Namun, seorang petugas keamanan (security) di lokasi bernama Rian membenarkan bahwa antrean panjang ini sudah menjadi pemandangan harian.
"Ini sudah lama terjadi, Pak. Mobil solar antre karena mereka ingin mengisi yang bersubsidi. Kadang-kadang antreannya bisa sampai 5 kilometer," jelas Rian kepada tim media.
Para sopir berharap Pemerintah Provinsi Riau dan Pertamina segera mengambil kebijakan tegas untuk mengurai kemacetan dan memastikan ketersediaan solar bersubsidi tepat sasaran. Mereka mendesak agar tidak ada lagi pemandangan kendaraan berjejer hingga berkilo-kilometer yang mengganggu arus lalu lintas dan ekonomi para pekerja logistik.
(TIM)
Sabtu, 17 Januari 2026


























































































































