Sekijang, riauoke.com – Kegiatan gotong royong (goro) terakhir dalam rangka persiapan pelaksanaan Suluk sepuluh hari di Surau Ubudyah, Kelurahan Sekijang, Kecamatan Bandar Seikijang, digelar pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi penutup dari rangkaian goro yang telah dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam kurun waktu empat minggu terakhir.
Sejumlah tokoh pemerintahan, adat, dan masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Camat Bandar Seikijang H. Yasri Budu, S.Pd., M.M., Kepala Desa Simpang Beringin Taharuddin Ibrahim, Kepala Desa Muda Setia Muslim, S.E., Lurah Sekijang Budi Hartoyo, S.H., Pemangku Adat Datuk Batin Kerinci Suranto Gandra, serta para Ketua RT dan RW dari Desa Simpang Beringin, Desa Muda Setia, dan Kelurahan Sekijang.
Gotong royong ini dipusatkan di area Surau Ubudyah sebagai lokasi utama pelaksanaan kegiatan Suluk yang dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari mulai Rabu sore. Kegiatan Suluk tersebut akan dipimpin oleh Syekh Abdul Gani dan Syekh Muda Zulkarnain, Lc.
Tiga Kali Goro, Fokus Persiapan Maksimal
Ketua Panitia, Fahrizal, saat dikonfirmasi Riauoke.com, menyampaikan bahwa goro yang dilaksanakan pada Minggu tersebut merupakan yang terakhir sebelum kegiatan Suluk dimulai.
“Ini goro terakhir. Sudah tiga kali kita mengadakan gotong royong di sini. Insyaallah ini yang terakhir karena sore Rabu kita sudah mulai acara Suluk selama sepuluh hari,” ujar Fahrizal.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan gotong royong dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana surau, termasuk kebersihan lingkungan, penataan ruang ibadah, serta fasilitas pendukung bagi para jemaah.
“Persiapan ini penting agar jemaah bisa menjalani Suluk dengan nyaman dan khusyuk,” tambahnya.
Jumlah Jemaah Belum Diketahui, Dominasi Kaum Hawa
Terkait jumlah peserta Suluk tahun ini, Fahrizal menyebutkan bahwa panitia belum dapat memastikan angka pasti karena pendaftaran dilakukan pada hari pelaksanaan.
“Untuk jemaah hari ini belum tahu, karena pada hari H baru terdaftar,” jelasnya.
Namun, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, jumlah peserta Suluk biasanya mencapai sekitar 50 orang.
“Biasanya tahun lalu banyak, bisa sampai 50 orang. Tapi dominan oleh ibu-ibu kaum hawa,” kata Fahrizal.
Ia menilai tingginya partisipasi kaum perempuan dipengaruhi oleh faktor aktivitas sehari-hari.
“Mungkin karena mereka tidak ada kesibukan lain, hanya sebagai ibu rumah tangga, jadi lebih leluasa mengikuti Suluk,” tambahnya.
Meski demikian, panitia berharap jumlah jemaah tahun ini bisa meningkat.
“Kita mengharapkan jemaah Suluk tahun ini meludak,” ujar Fahrizal optimistis.
Tradisi Wirid Tahunan, Warisan Almarhum H. Salim
Fahrizal juga menuturkan bahwa kegiatan Suluk dan wirid ini merupakan tradisi tahunan yang telah lama dilaksanakan di Surau Ubudyah. Kegiatan tersebut sebelumnya dipimpin oleh almarhum ayahnya, H. Salim.
“Wirid ini diadakan setiap tahun, dipimpin oleh almarhum ayahnda H. Salim,” ungkapnya.
Setelah sang tokoh wafat, keluarga dan masyarakat setempat berkomitmen untuk melanjutkan tradisi tersebut sebagai bagian dari pembinaan spiritual umat.
“Karena orang tua sudah tiada, kita yang melanjutkan,” kata Fahrizal.
Ia menjelaskan bahwa Suluk bukan sekadar kegiatan ibadah biasa, melainkan latihan spiritual yang menekankan pengendalian diri dan kedekatan dengan Allah SWT.
“Ini kan pelatihan mati. Diperbanyak shalat, dikurangi tidur, dikurangi makan, hanya mengingat Allah,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah Kecamatan
Camat Bandar Seikijang, H. Yasri Budu, S.Pd., M.M., turut memberikan apresiasi atas kerja keras panitia dan masyarakat dalam mempersiapkan kegiatan Suluk tersebut.
“Pada hari Rabu ini diadakan Suluk selama sepuluh hari. Kita dari pemerintah Kecamatan Bandar Seikijang memberikan apresiasi kepada panitia yang sudah berlumus-lumus mempersiapkan acara ini,” ujar Yasri Budu.
Menurutnya, gotong royong yang dilakukan selama empat minggu berturut-turut menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian masyarakat terhadap kegiatan keagamaan.
“Sudah empat minggu mengadakan gotong royong bersama di Musholla Ubudyah ini,” katanya.
Ia berharap kegiatan Suluk dapat berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi pembinaan moral serta spiritual masyarakat.
“Kita berharap acara ini sukses selama sepuluh hari,” tutupnya.
Simbol Kebersamaan dan Nilai Keagamaan
Kegiatan goro terakhir ini tidak hanya menjadi penanda kesiapan teknis pelaksanaan Suluk, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat Sekijang dan desa-desa sekitarnya.
Kehadiran unsur pemerintahan, tokoh adat, dan masyarakat dalam satu kegiatan menunjukkan sinergi antara pemerintah, adat, dan warga dalam mendukung kegiatan keagamaan.
Dengan berakhirnya rangkaian gotong royong, fokus kini tertuju pada pelaksanaan Suluk sepuluh hari yang diharapkan dapat berjalan khusyuk, tertib, dan memberi manfaat spiritual bagi seluruh jemaah yang mengikuti.[]srt


























































































































